XXX VIDEO - Sex On The Rock Movie Xxxx - Download Xxxx

XXX VIDEO - Sex On The Rock Movie Xxxx - Download Xxxx


BestPortalSex - XXX VIDEO - Sex On The Rock Movie Xxxx - Download Xxxx

Title xxx Movie : XXX VIDEO - Sex On The Rock Movie Xxxx - Download Xxxx
Duration xxx Movie : 14:25
Genre : XXX,18+,Chinese porn
Download From : Filepost or Depositfiles

xxx download , free sex , gratis download xxx , bestportalsex , youtube xxx , sex movie
ReadmoreXXX VIDEO - Sex On The Rock Movie Xxxx - Download Xxxx

Lots of sex at Olympic Village: Hope Solo - BESTPORTALSEX


BestPortalSex - Lots of sex at Olympic Village: Hope Solo - BESTPORTALSEX Perhaps it's just to release stress or just the thousands of taut and toned physiques on show but expect plenty of free love at the Olympic Village at the upcoming London Games.

At least that's if history repeats itself.

US Olympic gold medalist Hope Solo, who recently gave an insight on what went on the behind-the-scenes during her two-week stay at the Olympic Village back in 2008 in Beijing, said there's "lots of sex going on".

The 30-year-old goalkeeper, who will be heading to the London Games with the US women's national football team, told ESPN in an interview, "With a once-in-a-lifetime experience, you want to build memories, whether it's sexual, partying or on the field. I've seen people having sex right out in the open. On the grass, between buildings, people are getting down and dirty."

Apparently, she's not the only one who's seen the "down and dirty" side of the Olympics.

US swimmer Ryan Lochte believes "70 per cent to 75 per cent of Olympians" hook up behind the scenes, adding "Hey, sometimes you gotta do what you gotta do."

There was so much action at the Games that even celebs joined in the fun with the athletes.

Solo said, "I probably shouldn't tell you this, but we met a bunch of celebrities. Vince Vaughn partied with us. Steve Byrne, the comedian. And at some point we decided to take the party back to the village.

"We started talking to the security guards, showed off our gold medals, got their attention and snuck our group through without credentials -- which is absolutely unheard of."

"I may have snuck a celebrity back to my room without anybody knowing, and snuck him back out," Solo added. "But that's my Olympic secret."

Singapore will be sending 23 athletes to the London Games.

Thousands of competitors are now descending upon the Athletes Village and training camps ahead of the Games which start on 27 July.

About 17,000 athletes and officials are expected to live at the village, which is located inside the Olympic Park and close to main stadium and swimming venue.

Let the fun begin.
ReadmoreLots of sex at Olympic Village: Hope Solo - BESTPORTALSEX

Cerita Seks - Kenikmatan Terindah ML Di Kolam Renang

Cerita Seks - Kenikmatan Terindah ML Di Kolam Renang

BestPortalSex - Cerita Seks - Kenikmatan Terindah ML Di Kolam Renang , Menulis cerita seks kehidupan manusia dewasa mungkin tidak pernah berakhir, apa yang masing-masing pihak telah menciptakan berbeda.baik pola pikir dan kehidupan. Apakah kita sebagai manusia harus selalu dapat melewati hidup berpikir "bisa", belum tentu, setiap manusia ada keterbatasan, mana ada yang buruk dan sisi baik ternyata, apakah setiap orang diberi jiwa sekuat baja , ada diberi jiwa lapuk kayu kayak usang.Ini kisah nyata semua diambil dari peristiwa yang sebenarnya cuman baik dan buruk Anda yang tahu, pengalaman ini diringkas dalam cerita seks seks pemerkosaan yang akan sajikan.Hari saya, sekitar 12 siang, saya baru saja tiba di vilaku di puncak. Pak Joko, penjaga vilaku membukakan pintu garasi sehingga saya bisa memarkir mobil saya Pheew ... saya akhirnya melepaskan kelelahan setelah mengambil seminggu selama UAS. Saya ingin mengambil saat-saat tenang ketika, tanpa ditemani siapa pun, aku ingin menikmatinya sendirian di tempat yang jauh dari hiruk pikuk ibukota Jadi saya lebih baik menikmati privasi saya, jadi saya mengatakan kepada Pak Joko pulang ke rumah yang ada di desa sekitar sini. Tn. Ricardo memiliki bekerja di tempat ini sejak ayahku membeli villa ini sekitar 7 tahun yang lalu, dengan keberadaannya, vila kami terawat baik dan belum pernah dirampok. Dia hampir seperti ayah saya, 50-an lebih, tinggi dan kurus dengan kulit terbakar hitam. Saya sebenarnya berniat mengerjainya daridulu, tapi mengingat dia cukup loyal pada ayahku dan terlalu jujur, maka kuurungkan niatku.


"Punten Neng, kalau misalnya ada perlu, Ayah akan pulang kok, tinggal dateng aja" pamitnya.
Setelah Pak Joko pergi, aku membersihkan semua barang bawaan. Aku menjatuhkan diri ke tempat tidur sambil menghela napas, lega setelah dipisahkan dari buku kuliah. Cuaca hari itu cerah, matahari bersinar dengan diiringi angin sepoi-sepoi yang membuat suasana terasa lebih santai. Aku jadi ingin berenang, terutama setelah aku melihat kolam air di belakang bersih sekali, perawatan telaten Pak Joko dari villa ini. Segera aku mengambil perlengkapan berenang dan menuju ke kolam renang.

Sesampainya ada pengaturan lain saya merasa sangat baik, begitu tenang, bahwa hanya ada kicau burung dan gemerisik air angin tertiup. Mendadak kegilaan, Selama ini, tenang kesepian, bagaimana jika saya hanya berenang telanjang, namun tidak ada orang lain di sini tapi saya anyway aku senang orang mengagumi keindahan tubuh saya. Jadi tanpa pikir panjang lagi, aku melepas satu per satu semua pada tubuh saya, termasuk jam tangan dan perhiasan semua sampai benar-benar telanjang seperti saat lahir. Setelah mengeluarkan cincin terakhir pada tubuh saya, saya langsung melompat ke dalam kolam. Aahh .. terasa begitu baik untuk berenang telanjang seperti ini, tubuh terasa lebih ringan. Beberapa kali saya bolak-balik dengan beberapa gaya kecuali gaya punggung (karena saya tidak bisa, hehe ..)


20 menit selama aku berada di kolam renang, saya akan merasa haus dan ingin istirahat sebentar untuk berjemur di kolam renang. Saya kemudian bangkit dan mengeringkan tubuhku dengan handuk, setelah saya mengambil sekaleng coca-cola dari kulkas, aku kembali ke kolam. Kurebahkan diriku di kursi santai di sana dan saya memakai kacamata hitamku sambil menikmati minumku. Untuk menghaluskan kulit putih tidak terbakar matahari, saya mengambil oilku berjemur dan menggosok seluruh tubuh saya terlihat mengkilap. Jadi cuaca lezat di sini membuat saya mengantuk, jadi jangan merasa saya perlahan-lahan jatuh tertidur. Di dalamnya aku berbaring di kolam tanpa apa-apa yang melekat pada tubuh saya, kecuali untuk kacamata hitam. Jika saja ada pencuri masuk dan melihat situasi saya seperti itu, tentu saja aku diperkosa sampai mati.

Tengah tidur saya, saya merasa ada sesuatu yang meraba tubuhku, tangan itu membelai paha saya dan kemudian menyebar ke dada. Ketika tangan menyentuh pangkal paha bibir tiba-tiba membuka mata saya dan saya terkejut karena saya merasa itu bukan hanya mimpi. Aku melihat ada seseorang yang meraih saya dan jadi saya membangunkannya dengan sigapnya menyambar bahu saya dan dengan tangan menutupi mulut, mencegah saya dari menjerit. Saya mulai mengenal orang, ia adalah Taryo, penjaga vila tetangga, ia berusia 30-an, wajahnya sedikit jelek dengan gigi bengkok, pipi cekung dan matanya benar lebar di depan wajahku.
"Ssst .. Neng bisa dilewati Menurut menulis, di sini sudah ga ada orang lain, sehingga tidak berani!" Ancamnya
Aku hanya mengangguk, meskipun masih agak terkejut, lalu perlahan-lahan ia melepaskan saya dalam mulut bekapannya
"Hehehe .. waktu yang lama sekarang aku ingin Neng ngerasain sama telanjang!" Katanya, matanya menatap dadaku
"Telanjang ya telanjang, tapi dong sopan bertanya, memiliki pencuri tidak begitu kaya!" Aku berkata, marah.

Ternyata tanpa sadar dia sedang menonton saya dari berenang dari tuannya dan vila loteng bahwa ia sering tidak ketika seorang wanita daridulu berenang di sini. Mengetahui Pak Joko tidak ada di sini dan aku tertidur, ia sangat ingin memanjat dinding untuk masuk ke sini. Sebenarnya saya tidak dalam mood untuk seks karena mereka masih ingin istirahat, namun elusannya pada daerah sensitifku membuat BT (birahi tinggi).
"Heh, ia ingin gua pemerkosa, mengapa tidak membuka baju juga yang terakhir pegang-pegang doang berani!" Saya menantang.
"Hehe, ya ini Neng Neng abis loh payudara, montok benar-benar lupa deh" katanya sambil melepaskan pakaian compang-camping.
Tubuh begitu baik, meskipun agak tipis dan kotor, penisnya yang sudah tegang cukup, tentang ukuran miliknya di Wahyu, tukang pipa yang memainkan dengan saya (baca Air Junior, Listrik, dan Konstruksi).

Dia duduk di pinggir kursi dan mulai menyedot payudaraku yang paling dikagumi, sementara aku meraih penisnya dengan tangan saya sampai saya merasa dan kukocok penis semakin keras. Aku mendesis nikmat vagina dan membelai tangannya mengusap bibirnya.
"Eenghh .. terus .. Oohh Tar!" Desahku, meremasi rambut Taryo yang mengisap payudaraku.
Lalu kepalanya perlahan-lahan merayap turun dan berhenti di pangkal paha. Aku mendesah semakin tak menentu karena lidahnya bermain-main di sana ditambah dengan jarinya bergerak masuk dan keluar. Saya harus memeras payudara dan menggigit jari-jari saya tidak akan terus sendiri karena rasanya yang lezat kesemutan, kesemutan sampai akhirnya tubuhku mengejang dan melepaskan vaginanya hangat. Dengan Taryo melek rem Aku meraih rambutnya menyeruput vaginaku. Perasaan yang terus berlanjut sampai saya merasa cairanku tidak keluar lagi, lalu kepala Taryo off dari sana, mulutnya tampak basah dengan cairan cinta.

Belum beres saya set berburu napas, mulut saya dilumatnya dengan ganas. Saya merasa aroma cairan cinta saya sendirian di mulutnya tertutup cair. Aku agak kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku, masalah napas sedikit bau, baik bau rokok atau jengkol. Setelah beberapa menit saya bisa beradaptasi yang baru, permainan lidah dilunasi sampai lidah kami saling terkait dan mengisap. Kami juga berpagutan cukup lama, dia juga menjilati wajahku yang halus dengan jerawat tidak sampai wajahku basah oleh air liur.
"Gua ga Tar lagi, di sini saya punya lu semut" kataku.
Para Taryo segera bangkit dan berdiri di sampingku menyodorkan penisnya. Masih berbaring di kursi santai, saya memegangnya, dan kujilati kukocok sejenak sebelum saya dimasukkan ke dalam mulut.


Mulutku penuh dengan penisnya, itu bukan 3/4nya sepenuhnya dimasukkan hanya menampung saja. Aku memainkan lidahku di kepala penisnya adalah helm-suka, kadang-kadang saya menjilat lubang kencing nya sehingga tubuh pemiliknya bergetar dan mendesah keenakan sebuah desahan. Satu tangan memegang kepalaku dan dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan.
"Eemmpp .. emmphh .. nngg .." Saya mendesah tertahan karena hampir kehabisan napas, tetapi tidak peduli. Penis kepala berulang kali terhadap tenggorokan dinding. Lalu aku merasa ada cairan memenuhi mulutku. Aku berusaha menelan, tapi karena lelehan cairan di mulut saya. Semburannya belum selesai, dia mengeluarkan penisnya, sehingga semburan berikut disekujur mendarat di wajahku, kacamata hitam saya juga semen basah disemprot.

Aku melepas kacamata saya, maka saya mengusap wajah saya dengan tangan saya. Sisa-sisa sperma di kujilati jariku melekat sampai akhir. Ketika tiba-tiba pintu terbuka dan Mr Joko muncul dari sana, dia melongo melihat kami berdua sedang telanjang. Saya sendiri terkejut dengan kehadirannya, aku takut dia membocorkan ini pada ortuku.
"Eehh .. maaf Neng, Ayah hanya ingin Bapak ngambil uang di dalam ruangan, tahu ini ga Neng gituan lebih" dia tergagap.
Karena aku harus bertahan, aku akan menawarkan diri putus asa dan berjalan ke arahnya.
"Ah .. Pak oke ga itu, tindak memperbaiki Mr yuk aja!" Godaku.
Lihat keluguan jakunnya naik turun tubuhku, meskipun agak gugup matanya terpaku pada payudara saya. Aku membelai batangnya dari luar membuatnya terangsang.


Akhirnya dia mulai berani memegang payudaraku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya.
"Neng Neng payudara besar terlalu baik .. Mr diginiin juga baik?" Berjabat tangan terus meremasi payudaranya.
Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka celana panjangnya, maka saya menurunkan celana kolornya juga. Ternyata ayam hitam menggantung, jari-jari saya mulai memegangnya. Saya merasa di tanganku bergetar dan mengeras. Perlahan-lahan saya mulai berjongkok di depannya, tanpa basa-basi saya menempatkan batang di tanganku ke mulutnya, dan kuemut kujilati-semut untuk pemiliknya mengerang keenakan
"Yah, Pak Joko sama majikan malu sendiri menulis," seru Pak Joko Taryo yang memperhatikan sedikit gugup untuk menikmati seks oral bagi saya.

Taryo kemudian mendekati kami dan meraih tanganku untuk menjabat kemaluannya. Bergantian mulut dan tangan untuk melayani penis yang menegang. Tidak puas hanya untuk menikmati tangan, sesaat kemudian Taryo pindah ke belakangku, membuat tubuh saya beristirahat di lutut dan tangan. Aku mulai merasakan sebuah benda didorong ke dalam vagina. Seperti biasa, mulutku terbuka turun melingkupi masalah inci gemerisik oleh penis inci ke vaginaku. Aku disetubuhinya dari belakang, menusuk, kepala merayap ke ketiaknya ke mulutnya di atas payudaraku. Aku menggelinjang tak karuan waktu puting kananku digigit dengan gemas, pada penis Pak Joko kocokanku lebih bersemangat.


Rupanya aku telah membuat Pak Joko ketagihan, dia selesai memperkosa mulut saya begitu bersemangat untuk memajukan pinggul seakan sialan dukungan. Kepala saya dekat dengan dipeganginya dengan kesempatan untuk menghirup udara segar aku tidak ada. Akhirnya saya hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka, tembakan satu sama lain menyebabkan penis ke tubuh saya semakin menembus. Perasaan ini benar-benar sulit untuk menjelaskan, saat penis Taryo menyentuh bagian terdalam dari rahimku dan ketika penis menyentuh tenggorokan Pak Joko, belum lagi mereka terkadang memainkan payudara atau meremasi pantatku. Saya merasa seperti layang-layang terbang dilakukan sampai akhirnya tubuhku mengejang dan mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh penis Pak Joko. Seiring dengan bahwa genjotan Taryo merasa lebih kuat. Kami juga mencapai orgasme bersamaan, aku bisa merasakan air mani yang menyembur deras dalam diriku, dari persenggamaan selangkangan saya lelehan cair.

Setelah cukup lama untuk mencapai orgasme, tubuhku berkeringat, mereka tampaknya mengerti situasi saya dan menghentikan aktivitasnya.
"Neng, mungkin ga Mr masuk ke hal nya Pak Neng-begitu?" Kata Mr Joko lembut.
Aku hanya mengangguk, dan kemudian dia berkata lagi, "Tapi Neng istirahat menulis pertama, Neng kaya lelah pula."
Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di daerah dangkal untuk menyegarkan diri. Mereka berdua juga turun ke kolam, Taryo duduk di sebelah kiriku dan kanan saya Pak Joko. Kami mengobrol sambil memulihkan kekuasaan, di mana tangan-tangan jahil atau mereka selalu hanya meremas dada, paha dan bagian sensitif lainnya. Yang satu mendorong yang lainnya mendarat di sisi lain, lama-lama jadi saya biarkan saja, setelah semua, saya benar-benar menikmatinya.


"Neng, Bapak masuk sekarang aja yah, sudah ga tahan daritadi porsi tidak Neng hal itu" kata Mr Ricardo mengambil posisi berlutut di depan saya.
Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan kepala merestuinya, dia mengarahkan, kontol panjang keras ke vagina saya, tapi dia tidak segera menusuknya di bibir tapi selangkangan menggesekannya jadi saya menggelitik dan meremas penis Taryo berkelejotan menjilati bagian leher bawah telinga .
"Aahh .. Pak cepet enter dong, sudah kebelet ya!" Desahku tak tertahankan.
Aku meringis saat ia mulai menekan masuk penisnya. Sekarang vagina saya telah diisi oleh benda hitam panjang dan objek mulai bergerak keluar untuk memberi sensasi kenikmatan ke seluruh tubuh.

"Wow .. Neng pus benar-benar lamban, jika gini sudah tahu dari dulu Bapak entotin" ceracaunya.
"Persetan Anda juga, sudah bercucu Piktor masih, saya kira Anda belajar" kataku dalam hati.
Setelah 15 menit dia mengayuh booting saya dalam posisi itu, ia melepas penisnya dan duduk membungkuk dan mengangkat saya ke penisnya. Dengan refleks saya akan memegang penis saya sambil menurunkan itu sampai jatuh ke dalam celana saya. Dia memegang pantatnya sepotong padat berisi itu, bersama-sama kita mulai gemetar tubuh kita. Desahan kami berbaur dengan suara air kolam percikan, tubuh saya bergerak-gerak tak terkendali, saya menggelengkan kepala di sana-sini, dua payudara yang memantul tidak luput dari tangan dan mulut. Pak Joko memperhatikan penisnya keluar dari vagina seorang gadis 21 tahun, anak majikannya sendiri, sepertinya dia tidak bisa memahami bagaimana untungnya berkesempatan mencicipi tubuh seorang gadis muda yang pasti sudah tidak terasa.

Goyangan kami berhenti sejenak ketika Taryo tiba-tiba mendorong kembali sehingga pantat saya dan payudaranya semakin tertekan semakin menungging untuk menghadapi Pak Joko. Taryo membuka dan mengarahkan penisnya ke pantatku ada
"Aduuh .. Tar perlahan, sakit tahu .. aww!" Rintihku waktu dia mendorong ke penisnya.
Saya lebih rendah karena itu ramai sekali dijejali dua ayam besar. Kami bergoyang kembali, rasa sakit aku merasa perlahan-lahan berubah menjadi rasa nikmat menjalari tubuh saya. Saya menangis tak terkendali ketika Taryo menyodok pantatku dengan kasar, sehingga ia kuomeli sedikit lebih lembut. Alih-alih mendengar, Taryo menggenjotku bahkan lebih ganas. Pak Joko melumat bibirku dan lidah dalam mulut saya untuk bermain jadi saya tidak terlalu berisik.

Ini berlangsung sekitar 20 menit lama sampai saya merasa tubuh saya seperti meledak, saya bisa lakukan hanya berteriak dan memeluk Pak Joko erat panjang punggung dan menggaruk kuku. Untuk beberapa detik sampai tubuhku menegang dalam pelukannya lemas kembali Pak Joko. Tapi mereka masih peduli padaku memompaku tanpa ini sudah lemah. Erangan yang keluar dari mulutku terdengar lebih dan lebih berdaya. Tiba-tiba mereka merasa lebih erat memeluk untuk membuat sulit untuk bernapas, mereka juga serangan lebih kuat, putingku disedot keras oleh Pak Joko, dan Taryo rambutku. Lalu kurasakan hangat menyembur cairan di vagina dan anusku, air muncul sedikit cairan putih susu yang melayang-layang. Mereka berdua terkulai lemas antara tubuh saya masih terjebak dengan penis.

Setelah sisa-sisa terakhir kesenangan mereda, saya akan mengundang mereka untuk datang. Menyeka tubuh saya basah kuyup, aku berjalan ke kamar mandi. Eh .. mereka diikuti dan bergabung dengan mandi. Akhirnya kuiyakan saja deh supaya mereka senang. Aku hanya duduk di sana, mereka siram, gosok, dan tentu saja menyabuniku membelai dirinya. Alat kelamin dan payudara bagian yang paling panjang mereka sampai aku menyindir sabuni

"Mengapa .. mengapa ada lathered-neraka menulisnya, kamar mandi untuk membersihkan ga dong, dingin nih" disambut tawa kami.
Setelah itu, akulah yang mencuci giliran mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, saya akan kembali bekerja di kamar mandi.

Hari itu saya dikerjai terus-menerus oleh mereka sampai mereka tinggal dan tidur dengan saya di tempat tidur, spring bed. Sejak itu jika ada partai seks di vila, mereka selalu diundang untuk istilah-istilah ini jangan biarkan kebocoran rahasia. Aku senang karena ada sarana untuk memuaskan keinginan, mereka dapat merasa senang karena tubuhku dan teman-teman kuliah saya yang masih muda dan cantik. Jadi ada variasi dalam kehidupan seks kami, tidak selalu bermain teman-teman orang yang sama di kampus.
ReadmoreCerita Seks - Kenikmatan Terindah ML Di Kolam Renang

Cerita Seks - Kisah Lily Si Gadis HyperSex

bestportalsex.com - Cerita Seks - Kisah Lily Si Gadis HyperSex
BestPortalSex - Cerita Seks - Kisah Lily Si Gadis HyperSex , Lily, berusia 22 tahun. Dia adalah sahabat baik Ria. Posturnya 165 cm/50 kg. Payudaranya berukuran 34B. Orangnya hitam manis, rambutnya agak ikal. Matanya tajam setiap kali berbicara seakan-akan menyelidiki isi hati lawan bicaranya. Bibirnya penuh, tidak tebal, tidak tipis, sangat seksi. Menurutku, bagian terseksi dari Lily ada pada bibirnya. Sangat menggoda untuk dikecup, dicumbu dan dicium sepuasnya. Apalagi kalau Lily menggunakan lip gloss agar membuat bibirnya selalu tampak basah. Benar-benar menggoda. Wajahnya sangat innocent alias bertampang tak punya dosa, tampak lugu sekali.



Tapi jangan salah, di balik wajahnya yang imut, ada nafsu yang membara. Ada hasrat seks yang selalu menggebu. Tiada hari baginya tanpa memikirkan sex. Aku mengetahuinya setelah Lily berterus terang padaku apa yang dia rasakan. Lily bercinta pertama kali di kelas 3 SMP, pada saat usianya masih 15 tahun. Sejak usia 12 tahun, dia sudah melakukan masturbasi dan lalu pacar pertamanya mendapatkan kegadisannya. Lily tidak pernah menyesali setiap momen seksualnya. Dia selalu menikmatinya.



Suatu hari aku menerima SMS dari nomor handphone Ria..



"Hai Boy.. Lagi ngapain? Aku Lily. Kenalin yah! Aku sahabatnya Ria. Aku pengen kenal denganmu. Kalau kamu bersedia, hubungi aku di nomor 081xx ya! Thanks" Aku segera membalasnya. Tetapi melalui nomor Ria.

"Hai lily.. Kamu sekarang dengan Ria? Mana si Ria? Aku mau dia SMS aku" Saat itu aku lebih ingin bertemu Ria karena aku sudah lama tidak bertemu dengannya.

"Ria lagi mandi. Boy, kamu SMS di hape-ku saja ya" Balas Lily.



Yah, aku tahu kebiasaan Ria. Kalau mandi lama sekali. Boros air, boros sabun, boros shampoo, boros listrik, boros waktu.. Pokoknya boros. Tidak percaya? Bayangkan, dia mandi selama 45-60 menit! Ria sendiri yang bercerita padaku. Aku sampai terheran-heran. Atau aku saja yang kurang pengetahuan tentang lamanya wanita mandi ya? Dibandingkan dengan lama mandiku yang hanya 10 menit, si Ria jauh lebih lama. Akhirnya aku memutuskan untuk ber-SMS dengan Lily saja.



"Ada apa kok minta SMS di HP-mu? Kan sama aja di HP-nya Ria..?" tanyaku.

"Ah.. Biar lebih privacy saja. Boy, gila.. Ria udah cerita tentang apa yang kalian lakukan di kamar ini!" Aku jadi terkejut. Wah, Si Ria suka membocorkan rahasia rupanya. Tapi aku jadi maklum pada saat mengingat bahwa si Lily ini memang sobat baiknya. Ya, tidak apalah.



"Cerita apa lagi? Dia puas nggak?" tanyaku pada Lily.

"Puas, man! Katanya lo jago banget kissing-nya. Jago banget foreplay-nya! Jangan kepala besar ya!", jawabnya.

"Wah.. Kalau kepala besar sih enggak. Kalo penis besar iya.. Haha.." balasku usil.

"Tapi katanya lo ga tahan lama ya? Ga lama lo udah keluar ya?" Bum!! Aduh malunya aku. Si Ria, tega-teganya pengalaman pertamaku diceritakan begitu.

"Ah, itu kan ML pertamaku. Wajar dong aku gak tahan lama. Kalau sekarang sih udah jago!" balasku membela diri. Cowok mana yang rela dikatakan tidak tahan lama?

"Ah yang bener.. Sekarang udah tahan lama nih?" goda Lily. Aku jadi penasaran dengan si Lily ini.

"Emangnya kamu sendiri udah berani ML?" pancingku.

"Yah, elo.. Boy. Ya udahlah! Gue terus terang aja ama lo. Gue suka banget tahu!"



Perkataan si Lily membuat penisku ereksi. Keterusterangannya sangat langka kutemui. Biasanya wanita akan menutupi hasratnya. Apalagi pada cowok yang baru pertama ditemuinya. Tapi si Lily ini.. Berani sekali!



"Oh ya? Paling lo omong kosong doank.." pancingku lebih jauh.

"Hehe.. Lo mancing gue ya, Boy? Gak usah gitu.. Ntar malam telepon gue ya!"



Siang sampai malam aku bekerja sambil sesekali memikirkan Lily. Dunia ini memang luas, penuh keunikan. Dulu, hanya membicarakan hal yang berbau seksual saja sangat tabu. Tapi sekarang dengan kebebasan media, dengan kecepatan informasi yang hampir tanpa filter, siapa pun bisa mencari dan mendapatkan apa saja yang ia inginkan termasuk sex. Informasi tentang sex bisa dengan sangat mudah didapatkan di internet. Tak heran dalam waktu singkat, budaya 'sex itu tabu' telah terkikis.



Aku sangat yakin bahwa wanita seperti Lily, yang sangat menikmati sex, sangat banyak di Indonesia, tetapi hanya sedikit yang berani berkata, "Ya, saya suka dan menikmati sex". Tetapi lambat laun, aku percaya bahwa jumlah wanita seperti Lily akan semakin berkembang.



Malamnya aku menelepon Lily. Kami berbicara banyak hal. Tapi memang pembahasan utama kami adalah sex. Lily mengakui dirinya hipersex. Tetapi dia tidak suka berganti-ganti pasangan. Dia punya pasangan tetap. Frekuensinya saja yang sering. Hampir setiap hari Lily bercinta. Gila.., aku bayangkan pasti lelah sekali setiap hari bercinta. Lalu kami pun membuat janji untuk bertemu di rumahnya.



*****



Dari rumah aku mandi, menggosok gigi, menyiapkan dua buah kondom, handheld desinfectant dan merapikan bulu-bulu di wajahku. Aku memang tidak suka memelihara kumis dan jenggot. Kurang bersih kesannya. Walaupun kucukur habis, tetap saja terlihat kalau aku berbakat punya kumis. Justru terlihat seksi, kata Ria dan Ita. Dengan sedikit parfum, kaos putih bersih dan jeans biru, aku berangkat ke rumah Lily. Di sepanjang perjalanan aku menebak-nebak setangguh apa Lily, bagaimana aksinya di ranjang. Apakah agresif, pasif atau jangan-jangan suka yang aneh-aneh di atas ranjang seperti menyakiti dan disakiti?



Memikirkan Lily dan perilaku sex-nya membuat penisku berdenyut-denyut. Di bayanganku sudah menari-nari sosok wanita telanjang yang akan bercinta denganku. Yang akan kugumuli, yang akan kucumbu, kenikmati sepuasnya. Ah.. sebentar lagi aku akan bercinta.. Sebentar lagi aku akan menghunjamkan penisku ke vagina Lily. Sebentar lagi..



Lily tinggal serumah dengan neneknya. Orang tuanya bekerja di luar negeri. Sewaktu aku datang, neneknya sedang pergi. Pembantunya sedang menyeterika baju sambil menonton televisi. Lily menemuiku dengan memakai celana pendek dan kaos you can see. Seksi sekali. Darahku berdesir setelah menyadari bahwa Lily tidak memakai bra. Wah.., jangan-jangan dia tidak pakai celana dalam juga, pikirku. Lily segera menggandeng tanganku dengan mesra. Matanya melirikku nakal. Busyet nih anak, menggemaskan sekali, pikirku lagi.



"Udah makan, Say..?" tanyanya sambil jarinya menohok lembut perutku.

"Hm.. Udah. Kamu?" jawabku. Aku meremas jarinya.

"Ouch.. Kok diremas sih? Kalau yang ini udah makan?" tanyanya sambil mengayunkan tangannya menyentuh penisku dengan cepat. Ugh.., penisku bereaksi. Lily ini pintar sekali menggodaku. Aku tertawa ringan. Memang penisku belum 'makan' cukup lama.

"Kita masuk kamarku aja yuk.. Ada televisi di kamar" ajak Lily. Aku melirik pembantu Lily yang juga sedang melihatku. Kulihat pembantu Lily tersenyum padaku sambil terbatuk-batuk. Wah, sudah tahu gelagat dia rupanya, pikirku.



Kamar Lily cukup luas. Ada televisi, lemari es, AC dan kamar mandi. Mirip dengan kamar hotel. Aku menarik nafas panjang membayangkan kenikmatan yang sebentar lagi aku peroleh.



"Hayo.. Mikir apa?" goda Lily sambil memelukku dari belakang.



Pintu telah terkunci. Kurasakan kamar Lily sangat dingin karena AC. Pelukan Lily terasa hangat di punggungku. Bahaya sekali.. Dengan segala godaan dan stimulasi yang dilakukan Lily, membuat pikiranku sudah penuh dengan fantasi sex. Sangat berbahaya karena jika fantasi itu aku ikuti terus, aku akan mudah dikalahkan Lily nantinya. Aku berusaha rileks menenangkan pikiranku. Aku berusaha tenang.



"Gak mikir apa-apa kok.. Kamu sendiri mikir apa?" tanyaku. Aku mengambil remote dan menyalakan televisi. Kubaringkan tubuhku di atas ranjang. Spring bednya enak sekali. Sambil memeluk guling aku acuhkan Lily. Aku memilih menonton TV. Lily ikut berbaring di sampingku.

"Aku mikirin kamu Boy.. Sejak tadi malam aku gelisah" bisik Lily.



Lily sengaja membisikkan kata-kata itu di telingaku hingga membuat telingaku merinding. Ugh.., Lily menjilat telingaku! Aku sangat sensitif di telinga, sehingga jilatannya di telingaku seketika membangkitkan birahiku. Mataku refleks memandangnya. Lalu Lily menciumku. Bibirnya yang seksi itu melumat-lumat bibirku. Oh.., dia tidak juga berhenti. Terus menerobos masuk, menghisap bibirku. Lidahnya menari-nari di rongga mulutku, mencari lidahku yang juga mulai menggeliat. Aku mulai meresponsnya. Kubalas hisapannya. Kubalas jilatannya. Kubalas dengan penuh semangat.



Aku menyukai cara Lily menciumku. Tegas dan kuat sekali cumbuannya. Caranya memadukan bibirnya yang penuh dengan lidahnya yang lincah menunjukkan pengalamannya dalam bercumbu. Nikmat sekali ciumannya. Nafasnya juga menunjukkan ketenangannya. Lily tidak terburu-buru tetapi dahsyat dalam mencumbu. Dia mampu mengatur nafasnya dengan luar biasa. Hembusan nafasnya semakin menghangatkan suasana. Apalagi matanya tidak pernah terpejam. Dia menatapku terus dengan berani.



Aku melepaskan ciuman kami lalu bangkit berdiri dan minum. Aku harus mengatur ritme karena penisku sudah mau meledak rasanya. Aku sangat terangsang karena itu aku harus menenangkan diri. Baru minum seteguk, Lily sudah merengkuhku kembali, membaringkanku dan aku ditindihnya. Lily kembali mencumbuku dengan tubuhnya di atas tubuhku.





Luar biasa, Lily semakin berani. Ciumannya semakin kuat dan cepat. Kadang dia menyerbu leherku. Menjilat dan sesekali menggigitku. Kemudian kembali mencium telingaku. Tangannya juga tidak tinggal diam. Menjambak rambutku dan memegang kuat wajahku. Hebat, aku salut dengan lily. Wanita yang satu ini bisa memaksimalkan potensinya. Ciumannya di bibirku juga tidak monoton. Ada saja variasi gerakannya. Caranya menekan bibirku, caranya menghisap dan menjilat juga bervariasi. Nikmat sekali.



Perlahan aku merasakan pantat Lily bergerak. Dengan tenang Lily menggesek penisku dari luar. Saat itu kami masih sama-sama berpakaian. Wow.., ini adalah pengalaman pertamaku. Kurasakan penisku menggeliat bangkit. Semakin lama semakin tegang dan keras. Gesekan Lily membuat penisku berdenyut-denyut nikmat.



"Enak, kan.. Boy?" bisik Lily. Ya kuakui enak sekali.

"Enak.. Tapi apa vaginamu bisa merasakan? Kamu kan masih memakai celana?" tanyaku ingin tahu. Aku tidak yakin Lily merasakan hal yang sama dengan yang kurasakan.

"Bisa Boy, tapi aku harus menggesek dan menekan agak keras.." jawabnya.



Aku mencoba mengikuti alur permainannya. Sebetulnya aku sudah ingin menelanjanginya. Gesek menggesek begini memang nikmat, tapi tetap saja jauh lebih nikmat bercinta langsung. Aku mulai bergerak mengambil posisi duduk. Tanganku bergerak menarik kausnya. Benar, Lily tidak memakai bra. Payudaranya langsung kusambut dengan mulutku. Aku benamkan mukaku ke belahan payudaranya. Menghisap putingnya dan tanganku mulai meremas payudaranya.



Lily juga menarik kausku. Perlahan Lily mulai membalas mencium dadaku. Menjilat putingku dan tangannya menarik lepas celanaku. Penisku menyembul dengan gagah. Direngkuh oleh tangan halus Lily. Penisku mulai diremas dan dikocok oleh tangan Lily. Tangannya juga memijat naik turun dari kepala ke pangkal penisku. Oh.., nikmatnya, aku sudah lama menantikan saat-saat nikmat seperti ini.



Aku bergerak menuju selangkangan Lily. Kulepas celananya. Benar dugaanku, dia sudah tidak memakai celana dalam. Kurasakan vaginanya sudah basah. Vagina Lily bersih dari bulu. Rupanya ia mencukur habis bulu kemaluannya. Kami pun mengambil posisi 69. Aku membuka kaki Lily lebar-lebar dan mulai menjilati vaginanya. Pelan.. Aku menikmati vaginanya. Tanganku juga dengan terampil merangsang vaginanya. Mencari klitoris dan g-spotnya.



Penisku sendiri kumasukkan ke mulut Lily. Sambil naik turun, penisku bercinta dengan mulut Lily. Cukup sulit ternyata posisi 69. Tidak semudah yang sering kulihat di film-film biru. Baru beberapa menit aku sudah lelah berada di atas tubuh Lily. Kami berganti posisi. Tetap 69 hanya saja posisiku di bawah. Dengan posisi ini Lily lebih aktif menggarap penisku. Oralnya hebat. Tangannya mampu bekerja sama dengan mulutnya hingga membuat penisku keenakan. Kami benar-benar melakukannya tanpa suara. Bagaimana bisa bersuara sementara mulut kami sedang sibuk mengoral satu sama lain? Hanya desahan nafas kami yang memburu.



Pikiran tenang adalah kunci bercinta. Setelah berhasil menguasai pikiranku, aku jadi rileks. Oral dari Lily kunikmati dengan santai. Hasilnya, aku tidak merasakan gerakan orgasme dari penisku. Aku jadi tahan lama. Lily sendiri tampaknya tidak kuat menahan gempuran oralku. Vaginanya semakin basah dan akhirnya dia mengalami orgasme. Cairan orgasmenya cukup banyak. Tubuh Lily mengejang beberapa saat menikmati orgasmenya. Mulutnya melepas penisku.



"Aahh.. Hebat Boy. Oralmu dahsyat! Enak sekali!" puji Lily.



Pengalaman memang membuatku semakin hari semakin hebat. Aku terus merangsang Lily. Kali ini kami kembali ke posisi normal. Aku memeluknya dari atas. Tubuhku menindih tubuh Lily. Tanganku tetap merangsang vaginanya. Sementara mulut kami kembali bercumbu. Di sela-sela cumbuan, aku mengajaknya bicara.



"Kok cepat, tadi udah nyampe?" tanyaku. Aku memang heran dengan Lily yang mudah orgasme dengan oral saja. Tidak selama Ria, Ita atau Tante Yeni.

"Iya.. Aku memang mudah orgasme. Jadi, buat aku multi orgasme, Boy.." jawab Lily.



Wah, beruntung sekali pria yang bisa bercinta dengan Lily. Tidak perlu susah payah membuat Lily orgasme. Aku kembali mencium Lily. Kali ini seluruh tubuhnya aku cium dan jilati. Mulai dari seluruh wajah, telinga, leher, payudara, perut, punggung, pantat, tangan dan kakinya! Semua aku jilat dan cium dengan lembut. Cukup makan waktu lama dan menguras energiku. Tapi hasilnya, Lily mulai menggeliat menandakan birahinya mulai naik kembali. Aku harus sabar dan dengan tekun merangsangnya. Titik lemah Lily adalah di vagina dan perutnya. Jadi aku memfokuskan merangsang tubuhnya di dua titik itu. Pelan, refleks kaki Lily mulai terbuka lebar. Vaginanya sangat merah. Tanpa bulu kemaluan membuatnya tampak segar. Aku sengaja menatapnya agak lama seakan meneliti pusat kenikmatan dunia itu.



"Aduh.. Malu.. Jangan dilihatin gitu dong.." rajuk Lily. Tapi itu cuma basa-basi. Kulihat Lily sangat menikmati vaginanya kuamat-amati.

"Indah sekali, Lily. Seksi sekali.." komentarku.



Ya, aku dengan bebas bisa mengamati vaginanya. Merah menggoda menantang. Terhidang sejelas-jelasnya di depanku. Vagina Lily tiba-tiba seakan hidup dan berkata, "Tunggu apa lagi? Ayo masuk!" Aku menahan nafas. Penisku juga sudah berontak ingin menerjang masuk.



Perlahan, penisku menembus vaginanya. Mulai kugerakkan tubuhku bercinta dengan Lily. Setiap gesekan penisku di vagina Lily kunikmati. Lily dengan terampil mengimbangi gerakanku. Tubuh kami bergerak selaras. Menyatu. Kami bercinta! Setiap kali penisku menggesek vaginanya, Lily mendesah. Lama-kelamaan suara Lily semakin keras. Aku juga tidak segan mengeluarkan desahanku.



"Arg.. Arg.. Ya, terus.. Enak.. Kamu luar biasa.."

"Oh.. Terus.. Ya.. Ouch.. Oh.."



Berbagai macam kata yang tidak terkontrol keluar dari mulut kami. Kami terus saling memacu birahi. Memburu kenikmatan tiada tara. Penisku terasa panas. Denyutannya semakin menjadi-jadi. Jika ambang orgasme tiba, aku berhenti sejenak. Kami berganti posisi. Kemudian bercinta lagi. Ganti posisi lagi. Bercinta lagi.. Enak sekali. Kami sama-sama tahan lama.



Kini aku memangku Lily. Agak sakit terasa di penisku ketika Lily menurunkan tubuhnya hingga membuat penisku menembus vaginanya. Desahan Lily semakin keras. Kami berlomba mencapai finish.



"Kamu siap, Boy? Aku punya jurus rahasia.." tanya Lily.

"Jurus apa..?" aku penasaran.



Tiba-tiba kurasakan vagina Lily menjepit penisku. Agh.. Enak sekali. Vaginanya seperti membesar dan mengecil, menjepit dan melepas penisku. Aku seperti dibawanya terbang semakin tinggi. Melayang semakin tinggi. Kenikmatan yang kurasakan semakin memuncak. Setiap detil tubuhku penuh dengan keringat kenikmatan. Begitu pula dengan Lily. Tubuhnya bergetar dan bergoyang menikmati percintaan kami.



Tak lama kemudian aku mulai merasakan gelombang orgasmeku datang. Aku kembali menahan diri. Kucabut penisku dan kami berganti posisi menjadi doggy style. Kembali aku memasukkan penisku. Lily menungging membelakangiku. Pantatnya penuh dan seksi. Aku menghunjamkan dan mengocok penisku dengan cepat dan kuat.



"Keluarin di mana nih?" tanyaku memastikan dimana aku harus orgasme.

"Di dalam saja. Aku udah minum obat kok.."

"Arg.. Argh.." Hanya desahan nafas kami yang semakin memburu. Kami sudah bercinta cukup lama. Lily tangguh juga. Dia tampak sangat menikmati ini semua. Wajahnya memerah dilanda birahi.

"Ayo lebih kuat dan cepat, Boy.. Aku sudah hampir sampai.." ajak Lily.



Yah ini mungkin sudah saatnya. Aku memacu lebih cepat. Desahan nafas dan lenguhan kami makin cepat. Aku terus memompa penisku. Maju mundur, putar, maju mundur.. Terus sampai akhirnya kurasakan orgasmeku makin dekat. Lily juga semakin dekat.



"Iya.. Terus.. Terus.." teriak Lily.



Aku berusaha mati-matian menahan agar tidak orgasme duluan. Otot-ototku berjuang memperlama ereksiku. Agh.. Nampaknya aku mulai tidak tahan. Sudah terlambat untuk menghentikan ini semua. Sebentar lagi aku akan orgasme.. Srr.. Crot.. Sr.., aku orgasme sampai tubuhku terkejang-kejang. Ada hentakan-hentakn di tubuhku saat aku orgasme. Tapi aku masih tetap menghunjamkan penisku. Aku ingin mengantar Lily mencapai orgasme keduanya.



"Ah.. Arh.. Argghh.. Ya.. Ya.."



Akhirnya tubuh Lily bergetar sangat kuat. Tangannya mencengkeram sprei dengan kuat dan menariknya! Matanya terpejam dan mulutnya terbuka lebar mengeluarkan jeritan panjang.. Lily orgasme! Aku nyaris gagal membuatnya orgasme yang kedua kalinya. Untung sekali aku bisa bertahan cukup lama. Aku berjanji akan lebih baik lagi lain kali.



"Wah.. Maaf Lily.. Kamu kuat sekali. Aku nyaris tidak bisa membawamu orgasme yang kedua.." aku minta maaf dengan tulus sambil memeluknya.

"Wah.., aku yang makasih sekali ama lo, Boy. Kamu kuat lho.. Kita bisa orgasme sama-sama.. Aku senang sekali.." jawabnya melegakan hatiku.



Aku kembali menciumnya. Ini adalah after orgasm service-ku. Aku membelai-belai tubuhnya dan meremasnya dengan ringan. Memijat tengkuk dan punggungnya. Kami kemudian bercakap-cakap. Dengan jujur Lily mengakui bahwa dia sangat membutuhkan sex. Baginya memang sex adalah faktor utama. Dia mengakui tidak bisa hidup tanpa sex. Kemudian sampailah aku pada pertanyaanku..



"Kalau disuruh memilih pria yang sex hebat tapi dengan pribadi buruk atau pria dengan pribadi luar biasa tapi sex buruk, kamu pilih mana?" Lily terdiam. Bingung.

"Gimana ya.. Mestinya aku mau pilih yang sex-nya hebat aja deh. Tapi kok ya tidak yakin. Itu pilihannya mengikat tidak? Maksudku.. Sampai pernikahan ya?"

"Iya.. Keputusan yang mengikatmu sampai tua. Sampai mati." jawabku.

"Aduh.. Pusing. Yang mana ya? Sex hebat tapi kalau tiap hari di sakitin, ditinggal selingkuh, tidak diberi nafkah, anak-anak ditelantarkan.. juga percuma. Tapi biar semua baik, kalau tanpa sex ya nggak enak.. Gimana ya. Eh, tapi dia tidak impoten kan?"

"Kalau tidak impoten gimana, kalau impoten gimana?"

"Kalau tidak impoten, nggak apa-apa. Aku pilih yang pribadinya baik deh. Sex buruk bisa aku ajarin. Asal jangan impoten permanen." Lily mulai menemukan jawabannya.

"Kalau impoten?" desakku. Ini adalah pertanyaan yang paling sulit dipilih.

"Wah.. Benar-benar bingung aku. Kalo gitu aku pilih yang sex-nya hebat aja deh. Mungkin pelan-pelan pribadinya bisa tambah baik.." jawab Lily. Pilihan yang masuk akal.



Aku lega kembali mendapatkan jawaban detil. Informasi kembali kudapatkan dari Lily. Yah.. Aku masih harus bertanya pada Tante Yeni dan Ria.
ReadmoreCerita Seks - Kisah Lily Si Gadis HyperSex

Cerita Seks - ML Dengan Lia Si Penjual Buah

cerita seks - bestportalsex - ML dengan gadis penjual buah
BestPortalSex.Com - Cerita Seks - ML Dengan Lia Si Penjual Buah , Sewaktu aku masih duduk di SMTP di Kota Kecamatanku,

selain bertugas mengurus kerbau sehari-hari,

aku juga seringkali membantu orangtua dalam menanggulangi keperluan hidup keluarga, seperti bertani, berkebun dan ikut dagang.

Bertani dan berkebun sudah menjadi pekerjaan pokok bagi kami sekeluarga, namun berdagang merupakan pekerjaan tambahan yang aku coba geluti saat kecilku yakni ikut-ikut sama Om dan sepupuku yang kebetulan mereka berprofesi selaku pedagang papan.



*****



Singkat cerita, aku 'Anis' dengan identitas lengkap sudah berkali-kali termuat di situs sumbercerita.com bermaksud menceritakan pengalaman nyataku kepada teman-teman penggemar cerita porno, yang telah kualami sewaktu masih tergolong ABG, karena usiaku saat itu antara 12 sampai 15 tahun.



Waktu itu, aku bersama Om dan sepupuku setiap hari Sabtu Pagi berangkat menunggangi kuda menuju suatu daerah pegunungan pada salah satu daerah kecamatan yang bertetangga dengan wilayah kecamatanku. Kami rata-rata harus menempuh perjalanan sehari penuh baru tiba di daerah pegunungan tersebut untuk membeli papan lalu kami jual kembali ke kampungku dan ke kampung-kampung lain yang membutuhkannya. Karena jarak antara kampung kami dengan tempat produksi papan itu cukup jauh, maka tidak heran jika setiap kami berangkat mesti bermalam di daerah tersebut. Tapi karena sudah menjadi langganan kami sejak lama, maka kami bersama rombongan cukup akrab dengan para penjual papan, termasuk keluarganya.



Suatu hari, tepatnya Minggu pagi, seperti biasanya, kami berangkat ke hutan lewat beberapa gunung bersama penjual papan guna memilih dan memikul papan-papan yang hendak kami bawa pulang dan mengumpulkannya di pinggir jalan yang memudahkan bagi kuda mengangkutnya. Namun, tiba-tiba aku merasa malas jalan menelusuri bukit dan hutan. Apalagi di daerah itu hawanya sangat dingin sampai-sampai aku jarang mandi di daerah itu, karena hampiar seharian penuh terasa dingin. Aku cari alasan agar aku bisa diizinkan pulang ke rumah.



"Anis, kenapa kamu berhenti" tanya Omku ketika aku mendadak jongkok sambil memijit perut.

"Aduh, sakit sekali Om, aahh, perutku terasa tertusuk jarum," alasanku sambil mengurut-urut perutku.



Untung Om dan sepupuku tidak terlalu memeriksa kondisi perutku, sehingga mereka tidak terlalu curiga jika sikapku itu hanya alasan semata agar aku tidak dipaksa memikul papan.



"Kalau begitu, biar kamu diantar saja sepupumu pulang ke rumah, nanti ia menyusul. Lagi pula khan ada Liah yang menemanimu di rumah," kata penjual papan itu dan menyinggung nama anak satu-satunya perempuan yang tinggal jaga rumah sambil masak.

"Tak usah diantar pulang, biar aku sendiri ke rumah, khan masih dekat" kataku menolak diantar karena memang sakit perutku hanya alasan.



Sesampainya aku di rumah penjual papan itu, aku langsung ke tempat tidur yang memang selalu kami tempati tidur bersama rombongan. Setelah Liah keluar, nampaknya ia sedikit kaget melihatku berbaring dalam keadaan terbungkus sarung di seluruh tubuhku dari ujung kaki hingga ujung kepala karena cuacanya masih sangat dingin.



"Kok tidak ikut ke lokasi ambil papan kak?" tanya Liah padaku penuh kehati-hatian sambil mendekatiku.

"Ak.. aku sakit peruut dik.. Jadi aku disuruh pulang istirahat" jawabku dengan suara seperti layaknya orang sakit.

"Sakit sekali kak, perlu obat..?" tanya Liah seolah menghawatirkanku.

"Iyah.., apa ada minyak sumbawanya dik?" jawabku lagi.

"Ada kak, tapi bagus jika pakai minyak Etin, kebetulan Mamaku jika sakit perut, ia biasa meminum minyak Etin, lalu menggosokkan sedikit ke bagian perutnya yang sakit," kata Liah serius.



Ia nampak berlari masuk ke kamar orangtuanya yang terletak di bagian dalam rumah itu. Tak lama kemudian, LiaHPun muncul di samping tempat tidurku sambil berdiri memegang sebotol minyak Etin dengan segelas air putih, lalu menjulurkan padaku.



"Ini Kak minyak Etinnya. Silahkan diminum sedikit, lalu sapukan juga sebagian ke bagian perutmu yang sakit," katanya dengan suara lembut.

"Terima kasih dik, kamu baik sekali padaku. Untung saja kamu ada di rumah, jika tidak, tentu aku kesulitan cari obat," kataku merayunya.

"Mamamu kemana dik? Kok tidak kelihatan," tanyaku pura-pura meskipun sejak subuh tadi aku lihat Mamanya Liah berangkat ke pasar dengan jalan kaki bersama tetangganya sambil menjunjung gula merah untuk dijualnya.

"Ia ke pasar sejak tadi subuh kak. Maklum pasarnya agak jauh dari sini, sehingga ia terpaksa cepat-cepat berangkatnya untuk jualan gula merah".



Kami memang sempat terlibat dalam perbincangan setelah aku meminum dan menggosokkan ke perutku obat yang diberikannya itu. Liah adalah gadis yang kuyakini masih perawan desa karena jarang bergaul di luar rumah, bahkan belum pernah kulihat jalan sama lelaki. Tubuhnya agak langsing, warna kulitnya putih bersih dan mulus karena jarang kena sinar matahari apalagi cuacanya sangat dingin, sehingga keadaan gadisnya mungkin tak jauh beda dengan gadis-gadis Bandung yang konon umumnya cantik-cantik. Liah masih terus berdiri di samping tempat tidurku itu sambil menjawab seluruh pertanyaan basa basiku. Kadang kami bertatapan muka sambil melempar senyum. Kami sering saling memandangi tubuh masing-masing.



Sedikit demi sedikit jantungku mulai berdebar pertanda ada sesuatu yang muncul dan tidak biasa terpikir. Entah apa hal seperti itu juga dialami Liah, tapi aku mulai merasakannya dan memikirkannya. aku diam sejenak memikirkan alasan apa lagi yang harus kutunjukkan sehingga jantungku bisa tenang dan tanda tanya hatiku bisa terjawab.



"Aduh.. Aahh.. Iihh.. Kambuh lagi sakit perutku Liah, tolong aku dik.." sikapku pura-pura kesakitan agar Liah mau menyentuh tubuhku, karena aku mulai merasakan ada gejolak birahi atau cinta dari lubuk hatiku.

"Ada apa kak, apanya yang sakit," tanya Liah seolah bingung melihatku. Ia seolah jalan di tempat antara mau maju mendekatiku dengan mau lari cari bantuan orang lain atau mungkin cari obat yang lain. Entah apa..

"Toolongngng Dik Liah.. Bantu aakuu.. Ssaakiit sekalii.." teriakku sedikit teriak seolah kesakitan.

"Mau dibantu bagaimana kak? Aku harus berbuat apa kak..?" tanya Liah kebingungan dan ingin sekali menolongku tapi ia nampaknya ragu juga menyentuh tubuhku, apalagi memegangi perutku yang sedikit terbuka.

"Tolong disapukan ini ke perutku Liah. aku sakit sekali," jeritku sedikit tertahan sambil menyerahkan minyak Etin itu ke Liah.



LiaHPun meraih dengan cepatnya, lalu tanpa pikir dan ragu lagi, ia langsung menyentuh perutku yang masih terbungkus sarung, sehingga sarungku jadi basah akibat minyak Etin. Mungkin ia tidak sadar kalau perutku dilapisi kain sarung atau takut menyentuh langsung karena tidak biasa. Tangan kananku langsung memegang tangan kanannya lalu tangan kiriku menyingkap sarungku ke atas hingga ke dadaku. Terbukalah sedikit perutku, namun Liah nampak malu memandanginya, tapi aku menuntun tangannya yang sudah diolesi minyak Etin ke perutku. Terasa agak gemetar menyentuh kulit perutku, tapi ia tidak menolak merabanya, malah sedikit mulai bergerak menyapukan tangannya itu. Liah tetap saja menoleh ke arah lain, tapi lagi-lagi aku minta agar ia menumpahkan semua minyak Etin itu ke atas perutku. Akhirnya ia terpaksa melihatnya dan mulai menggosoknya.



Sungguh hangat, lembut dan nikmat sekali sentuhan telapak tangan Liah di perutku. Meskipun agak malu-malu, tapi ia tetap menolongku dengan menggosok-gosok terus perutku, lalu aku berkata pelan sekali.



"Liah, kamu tidak keberatan khan bila kamu terpaksa menyentuh kulitku?"

"Ti.. Tidak kak, sebab Kak khan sakit. Lagi pula aku hanya menolong kak"

"Jadi kamu tidak jijik dan tidak takut padaku Liah?" tanyaku singkat

"Kenapa jijik dan takut kak. Kita khan sudah seperti keluarga. Lagi pula siapa lagi yang mau menolong Kak kalau bukan saya" jawabnya seolah lebih berani dan sudah tidak malu serta tidak gemetar lagi.

"Aku betul-betul beruntung hari ini. aku ditemani oleh seorang gadis cantik yang setia menolongku di kala sakit. Mungkin inilah hikmah dari sakit perutku," ocehanku merayu Liah yang sedang memegangi terus perutku walaupun tak ada rasa sakit sedikitpun, melainkan hanya rasa rindu, nafsu birahi dan kenikmatan semata yang kurasakan.



"Ih.. Kak Anis.. Gombal ni yeah.." ucapnya sambil memutar sedikit perutku seolah ia mencubitnya.

"Sudah berhenti rasa sakitnya kak?" tanya Liah sambil menarik tangannya

"Masih sedikit sakit dik.. Jangan dihentikan dulu yach.. Nanti tambah sakit lagi. Biar lama-lama kunikmati sentuhan tanganmu yang lembut ini. Lagi pula khan Mama dan papamu masih lama pulangnya" kataku sambil meminta agar Liah tetap menempelkan tangan mulusnya di perutku.

"Yah deh, jika memang itu maumu. Tapi jangan macam-macam yach?" katanya

"Ok deh, aku akan mendengar permintaanmu" jawabku singkat, namun aku mencoba menempelkan kedua tanganku di atas tangannya yang sedang mengelus perutku. LiaHPun nampaknya ikut menikmati sedikit sentuhanku.



Karena aku semakin penasaran ingin menyentuh lebih banyak tubuh Liah akibat mulai terangsang dibuatnya, maka kucoba sedikit memiringkan tubuhku ke arah Liah yang sedang duduk di tepi tempat tidurku dengan kaki terjulur ke luar, sehingga penisku yang sejak tadi bergerak-gerak dari dalam celanaku dan mulai membesar mengacung ke atas sedikit menyentuh pinggul Liah. LiaHPun nampaknya tidak bergerak, malah sedikit termenung tunduk. Aku coba lebih rapatkan lagi selangkanganku ke pinggulnya, tapi ia tetap diam. Kali ini aku coba angkat tanganku hingga bertengger di atas kedua paha Liah yang terbungkus sarung, namun Liah mengangkatnya kebelakang, sehingga aku hanya bisa merapatkan ke punggungnya. Libidoku terasa semakin naik dan sulit kukendalikan, maka aku pura-pura lupa atas janjiku untuk tidak macam-macam. aku lingkarkan tanganku ke pinggangnya lalu kurangkul erat-erat, sehingga Liah terlihat menggigit bibirnya sambil menunduk tanpa bersuara. Mungkin ia juga terangsang dan menikmatinya.



Akhirnya aku beranikan diri meningkatkan reaksiku dengan meraih tangan kanan Liah lalu membawanya ke selengkanganku yang masih terbungkus sarung dan celana. Tangan LiaHPun terasa lemas dan menuruti saja. Tak lama tangan Liah tergeletak lemas di atas selangkanganku yang berisi tonjolan keras dan sedikit berdenyut itu, aku lalu menyingkap sedikit sarungku ke atas dan membawa tangan Liah masuk ke selangkanganku lewat bagian atas celanaku sehingga tangannya yang hangat bersentuhan langsung dengan penisku yang keras dan mulai basah ujungnya. Tangan Liah yang tadinya lemas kini mulai bertenaga juga dan bergerak menelusuri celah-celah celanaku hingga ia menggenggam penisku. Malah tanpa kutuntun dan kuajak lagi, tangannya mulai sedikit menggocok kemaluanku sehingga aku semakin panas dan ingin segera membuka seluruh penghalangnya.



"Dik Liah, maaf Dik yach jika terpaksa aku mengabaikan janjiku tadi. aku sama sekali tidak mampu lagi menahan cinta dan rasa rinduku padamu sayang. Semoga kamu juga bisa bahagia dan menikmatinya," bisikku.

"Terserah kak, asal kamu mau tanggung jawab nantinya," katanya singkat.



Tanpa kujawab lagi perkataannya itu, aku langsung menurunkan celanaku hingga terbuka semuanya, lalu kutarik tubuh Liah agar masuk ke arahku lebih rapat. Iapun nampaknya pasrah tanpa komentar, malah membaringkan mukanya ke perutku, ke bahuku dan ke wajahku. aku baringkan ia di atas kasur dengan terlentang, lalu kukecup seluruh tubuhnya mulai dari dahi, pipi, dagu, leher dan berhenti di mulut serta bibirnya. Iapun menyambut kecupanku itu dengan sedikit membuka mulutnya seolah memberi kesempatan padaku untuk memasukkan lidahku ke dalam rongga mulutnya. Cukup lama aku bermain lidah hingga tanganku bergerak menelusuri daster yang dikenakan Liah. Tangankupun menemukan dua benda kenyal, hangat, mungil, agak keras serta mulus yang terasa ujungnya mengeras.



"Buka pakaiannya yach sayang.." pintaku berbisik di telinganya.



Namun Liah tidak bergerak sedikitpun. Tapi aku tetap beranikan diri membuka sendiri pakainnya dengan mengangkatnya ke atas hingga terbuka lewat kepalanya. Terlihatlah perutnya yang rata, putuh dan mulus, meski masih terbungkus bagian bawahnya dengan sarung. Sedang bagian atasnya sisa selembar kain yang kecil melingkar di dadanya dengan warna putih sehingga kedua benda yang kupegang tadi belum kelihatan dengan jelas. Namun itu tak bertahan lama karena aku segera melepaskannya dengan mudah, lalu aku leluasa menjilatinya, mengisap-isap putingnya dan meremas-remasnya. Akibatnya LiaHPun bergerak-gerak seiring dengan gerakan tangan dan mulutku secara bergantian. Bahkan kali ini ia tak sadar sehingga mengangkat pinggulnya yang masih terbungkus sarung dan menyentuh benda yang ada di selangkanganku yang tak terlapisi kain sedikitpun. Liah menggelinjang bagaikan cacing ketika aku menyapu perut dan pusarnya dengan lidah. Kakinya terangkat sehingga dengan sendirinya sarungnya tersingkap ke atas yang memperlihatkan paha mulusnya.



"Boleh saya buka sarungnya sayang?" tanyaku berbisik, namun lagi-lagi ia tak bersuara kecuali sedikit mengangguk.



Akupun segera menurunkannya dengan ujung kakiku hingga terlepas. Tinggallah celana colornya yang berwarna hitam. Tapi itupun tak lama, sebab aku susul dengan jepitan ujung kaki lalu menurunkannya hingga terlepas semuanya. Kamipun sudah telanjang bulat. Suasana dingin di rumah itu semakin hilang seiring dengan meningkatnya permainan kami. Keringat kami mulai bercucuran. Kutingkatkan gerakanku dengan menjilati bagian bawah pusarnya hingga lidahku menyentuh daging yang terbelah dua dengan baunya yang khas, warna kulitnya agak putih, tonjolan yang menancap di antara kedua bibirnya agak kemerahan dan sedikit keras lagi indah. Kuputar-putar lidahku dan kugocok-gocokkan ke luar masuk pada benda mungil nan indah itu, sehingga Liah terengah-engah dengan nafas terputus-putus, bahkan sedikit bergelinjang keenakan.



"Kak, cepat masukin dong, aku sudah nggak tahan nih.. Aahh.. Uuhh.." pinta Liah tiba-tiba, sehingga aku semakin mempercepat permainanku.



Kali ini kurenggangkan kedua pahanya sehingga terlihat dengan jelas benda khusus dan sasaran utama bagi setiap laki-laki itu. Namun karena Liah masih mudah, sehingga wajar jika belum terlihat jelas bulu-bulu yang tumbuh di atasnya. Tapi aku senang karena terasa lembut, jelas dan mudah dijamah. aku merasakan ada cairan hangat yang mulai mengalir dari dalam perutku dan lubang yang sedikit menganga di bawah hidungku juga nampaknya sudah tidak sabaran menunggu hantaman penisku yang dari tadi bergerak mencari pasangan dan lawannya. Lubang kemaluan Liah semakin basah oleh cairan pelicin, sehingga aku segera mengarahkan ujung penisku menancap ke lubang itu. Cukup lama berkenalan di luar pintu dari kedua benda asing itu, seolah mereka bicara dengan mesra.



Tanpa kusadari dan kusengaja, ujung penisku masuh pelan-pelan akibat sambutan pantat Liah yang terangkat tinggi-tinggi sehingga sulit aku hindari pertemuannya. Namun sesampai di leher penisku, terasa agak sulit masuk seolah ada pelapis yang menghalangi. Kami saling berusaha, namun tetap sulit. Dalam hati saya mungkin karena baru kali ini ada benda seperti miliku masuk ke lubang Liah sehingga masih sempit. Setelah aku berjuang keras, membantu dengan kedua tanganku membuka kedua bibir lubang Liah, menggerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan yang disambut pula oleh gerakan pinggul Liah yang berputar, bahkan aku letakkan bantal guling mengganjal pinggul Liah, akhirnya masuk juga sedikit demi sedikit meskipun nampaknya Liah kesakitan dan memaksa.



"Auhh.. Aaahh.. Uuuhh.. Mmmhh.. Khh.." suara Liah yang sedikit keras terdengar ketika penisku masuk senti demi senti hingga amblas ditelan oleh vagina Liah yang sempit, mulus dan basah itu.



Setelah amblas, akupun semakin mempercepat gocokannya seiring dengan gerakan pinggul Liah yang nampaknya tidak mau diam. Suara nafas kami yang saling memburuh mewarnai kesunyian di ruangan itu. Baru aku mau coba terapkan posisi yang lain, misalnya tidur telentang dengan Liah mengangkangiku atau Liah nungging lalu aku menusuk vaginanya dari belakang atau kami sama-sama duduk dan lain-lainnya, tapi tiba-tiba sekujur tubuh Liah gemetaran, menarik rambutku, memelukku dengan keras dan menggigitku sedikit, lalu seolah menjepit kemaluanku dengan keras sehingga terasa berdenyut-denyut, yang akhirnya Liah lemas lunglai dan matanya tertutup tanmpa sedikitpun bergerak.



Maka terpaksa aku urungkan niatku, apalagi hampir bersamaan itu pula aku didesak oleh cairan hangat dari dalam yang seolah memaksa mau tumpah, yang akhirnya kuturuti saja tumpah di dalam lubang Liah yang sudah lemas, sehingga kuyakini tumpahnya hanya di bagian luar saja.



Belum mataku tertidur setelah menyelesaikan tugas dan merasa terobati oleh Liah, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di depan rumah. Mak cepat-cepat kubungkus diriku dengan sarung, lalu kubangunkan Liah yang baru saja mulai tertidur. Liah pun segera bangkit mengenakan pakaiannya seperti semula setelah ia melap tubuhnya yang basah dengan kain sarung yang ada di dekatku. Bersamaan dengan keluarnya Liah dari ruangan di mana aku tadi diobati, pintu rumaHPun kedengaran terbuka dan suara maka LiaHPun sangat jelas memanggil Liah untuk membantu mengangkat barang-barang belanja serta sisa jualannya di pasar. Liah terdengar berlari dari dalam setelah kedengaran ada air yang jatuh.



Mungkin Liah baru saja membersihkan vaginanya atau badannya yang kelepotan cairan kental. Namun hingga kami kembali ke daerahku bersama rOmbongan dengan membawa papan dagangan kami, tidak seorangpun yang pernah curiga atas apa yang telah kami peraktekkan bersama Liah sewaktu aku sedang sakit pura-pura.



Saat itulah awal dari perjalanan sexku bersama manusia. Hari-hari berikutnya, kami masih beberapa kali melakukannya dengan suka sama suka baik ketika kami berdua di rumahnya maupun ketika kami jalan-jalan ke gunung dan hutan. Tapi sayangnya, sejak aku melanjutkan pendidikan ke kota Kabupaten, aku belum pernah ketemu lagi, bahkan hingga saat aku memiliki 2 orang anak saat ini, kabarnyapun tak pernah terdengar.
ReadmoreCerita Seks - ML Dengan Lia Si Penjual Buah

NIKMATNYA BERCUMBU DENGAN INDI - Best Portal Sex

BESTPORTALSEX - NIKMATNYA BERCUMBU DENGAN INDI.

Pengalamanku Ini terjadi mungkin kira-kira 2 tahun yang lalu.

Sebut saja Indi (bukan nama sebenarnya)

Dia adalah tunangan temanku yang bernama Edi (bukan nama asli) yang tinggal di Jakarta.

Yang mana pada waktu itu Edi harus keluar kota untuk keperluan bisnisnya.

Oh ya, Edi ini punya adik laki-laki yang bernama Deni, dimana adiknya itu teman mainku juga.

Kalau tidak salah, malam itu adalah malam minggu, kebetulan pada waktu itu aku lagi bersiap-siap untuk keluar. Tiba-tiba telpon di rumahku berbunyi, ternyata dari Deni yang mau pinjam motorku untuk menjemput temannya di stasiun kereta api. Dia juga bilang nitip sebentar tunangan kakaknya, karena di rumah lagi tidak ada siapa-siapa. Aku tidak bisa menolak, lagi pula aku ingin tahu tunangan temanku itu seperti bagaimana rupanya.

Tidak lama kemudian Deni datang, karena rumahnya memang tidak begitu jauh dari rumahku dan langsung menuju ke kamarku.

"Hei Rick..! Aku langsung pergi nih.. mana kuncinya..?" kata Deni.

"Tuh.., di atas meja belajar." kataku, padahal dalam hati aku kesal juga bisa batal deh acaraku.

"Oh ya Rick.., kenalin nih tunangan kakakku. Aku nitip sebentar ya, soalnya tadi di rumah nggak ada siapa-siapa, jadinya aku ajak dulu kesini. Bentar kok Rick..," kata Deni sambil tertawa kecil.

"Erick..," kataku sambil menyodorkan tanganku.

"Indi..," katanya sambil tersenyum.

"Busyeett..! Senyumannya..!" kataku dalam hati.

Jantungku langsung berdebar-debar ketika berjabatan tangan dengannya. Bibirnya sensual sekali, kulitnya putih, payudaranya lumayan besar, matanya, hidungnya, pokoknya, wahh..! Akibatnya pikiran kotorku mulai keluar.

"Heh..! Kok malah bengong Rick..!" kata Deni sambil menepuk pundakku.

"Eh.. oh.. kenapa Den..?" kaget juga aku.

"Rick, aku pergi dulu ya..! Ooh ya Ndi.., kalo si Erick macem-macem, teriak aja..!" ucap Deni sambil langsung pergi.

Indi hanya tersenyum saja.

"Sialan lu Den..!" gerutuku dalam hati.

Seperginya Deni, aku jadi seperti orang bingung saja, serba salah dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Memang pada dasarnya aku ini sifatnya agak pemalu, tapi kupaksakan juga akhirnya.

"Mo minum apa Ndi..?" kataku melepas rasa maluku.

"Apa aja deh Rick. Asal jangan ngasih racun." katanya sambil tersenyum.

"Bisa juga bercanda nih cewek, aku kasih obat perangsang baru tau..!" kataku dalam hati sambil pergi untuk mengambil beberapa minuman kaleng di dalam kulkas.

Akhirnya kami mengobrol tidak menentu, sampai dia menceritakan kalau dia lagi kesal sekali sama Edi tunangannya itu, pasalnya dia itu sama sekali tidak tahu kalau Edi pergi keluar kota. Sudah jauh-jauh datang ke Bandung, nyatanya orang yang dituju lagi pergi, padahal sebelumnya Edi bilang bahwa dia tidak akan kemana-mana.

"Udah deh Ndi.., mungkin rencananya itu diluar dugaan.., jadi Kamu harus ngerti dong..!" kataku sok bijaksana.

"Kalo sekali sih nggak apa Rick, tapi ini udah yang keberapa kalinya, Aku kadang suka curiga, jangan-jangan Dia punya cewek lain..!" ucap Indi dengan nada kesal.

"Heh.., jangan nuduh dulu Ndi, siapa tau dugaan Kamu salah," kataku.

"Tau ah.., jadi bingung Aku Rick, udah deh, nggak usah ngomongin Dia lagi..!" potong Indi.

"Terus mau ngomong apa nih..?" kataku polos.

Indi tersenyum mendengar ucapanku.

"Kamu udah punya pacar Rick..?" tanya Indi.

"Eh, belom.. nggak laku Ndi.. mana ada yang mau sama Aku..?" jawabku sedikit berbohong.

"Ah bohong Kamu Rick..!" ucap Indi sambil mencubit lenganku.

Seerr..! Tiba-tiba aliran darahku seperti melaju dengan cepat, otomatis adikku berdiri perlahan- lahan, aku jadi salah tingkah. Sepertinya si Indi melihat perubahan yang terjadi pada diriku, aku langsung pura-pura mau mengambil minum lagi, karena memang minumanku sudah habis, tetapi dia langsung menarik tanganku.

"Ada apa Ndi..? Minumannya sudah habis juga..?" kataku pura-pura bodoh.

"Rick, Kamu mau nolongin Aku..?" ucap Indi seperti memelas.

"Iyaa.., ada apa Ndi..?" jawabku.

"Aku.., Aku.. pengen bercinta Rick..?" pinta Indi.

"Hah..!" kaget juga aku mendengarnya, bagai petir di siang hari, bayangkan saja, baru juga satu jam yang lalu kami berkenalan, tetapi dia sudah mengucapkan hal seperti itu kepadaku.

"Ka.., Kamu..?" ujarku terbata-bata.

Belum juga kusempat meneruskan kata- kataku, telunjuknya langsung ditempelkan ke bibirku, kemudian dia membelai pipiku, kemudian dengan lembut dia juga mencium bibirku. Aku hanya bisa diam saja mendapat perlakuan seperti itu. Walaupun ini mungkin bukan yang pertama kalinya bagiku, namun kalau yang seperti ini aku baru yang pertama kalinya merasakan dengan orang yang baru kukenal.

Begitu lembut dia mencium bibirku, kemudian dia berbisik kepadaku, "Aku pengen bercinta sama Kamu, Rick..! Puasin Aku Rick..!"

Lalu dia mulai mencium telinganku, kemudian leherku, "Aahh..!" aku mendesah.

Mendapat perlakuan seperti itu, gejolakku akhirnya bangkit juga. Begitu lembut sekali dia mencium sekitar leherku, kemudian dia kembali mencium bibirku, dijulurkan lidahnya menjalari rongga mulutku. Akhirnya ciumannya kubalas juga, gelombang nafasnya mulai tidak beraturan. Cukup lama juga kami berciuman, kemudian kulepaskan ciumannya, kemudian kujilat telinganya, dan menelusuri lehernya yang putih bak pualam.

Ia mendesah kenikmatan, "Aahh Rick..!"

Mendengar desahannya, aku semakin bernafsu, tanganku mulai menjalar ke belakang, ke dalam t- shirt-nya. Kemudian kuarahkan menuju ke pengait BH-nya, dengan sekali sentakan, pengait itu terlepas.

Kemudian aku mencium bibirnya lagi, kali ini ciumannya sudah mulai agak beringas, mungkin karena nafsu yang sudah mencapai ubun- ubun, lidahku disedotnya sampai terasa sakit, tetapi sakitnya sakit nikmat.

"Rick.., buka dong bajunya..!" katanya manja.

"Bukain dong Ndi..," kataku.

Sambil menciumiku, Indi membuka satu persatu kancing kemeja, kemudian kaos dalamku, kemudian dia lemparkan ke samping tempat tidur. Dia langsung mencium leherku, terus ke arah puting susuku.

Aku hanya bisa mendesah karena nikmatnya, "Akhh.., Ndi."

Kemudian Indi mulai membuka sabukku dan celanaku dibukanya juga. Akhirnya tinggal celana dalam saja. Dia tersenyum ketika melihat kepala kemaluanku off set alias menyembul ke atas.Indi melihat wajahku sebentar, kemudian dia cium kepala kemaluanku yang menyembul keluar itu. Dengan perlahan dia  turunkan celana dalamku, kemudian dia lemparkan seenaknya. Dengan penuh nafsu dia mulai menjilati cairang bening yang keluar dari kemaluanku, rasanya nikmat sekali. Setelah puas menjilati, kemudian dia mulai memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya.

"Okhh.. nikmat sekali," kataku dalam hati, sepertinya kemaluanku terasa disedot-sedot.

Indi sangat menikmatinya, sekali- sekali dia gigit kemaluanku.

"Auwww.., sakit dong Ndi..!" kataku sambil agak meringis.

Indi seperti tidak mendengar ucapanku, dia masih tetap saja memaju-mundurkan kepalanya.

Mendapat perlakuannya, akhirnya aku tidak kuat juga, aku sudah tidak kuat lagi menahannya,"Ndi, Aku mau keluar.. akhh..!"

Indi cuek saja, dia malah menyedot batang kemaluanku lebih keras lagi, hingga akhirnya, "Croott.. croott..!"

Aku menyemburkan lahar panasku ke dalam mulut Indi. Dia menelan semua cairan spermaku, terasa agak ngilu juga tetapi nikmat.

Setelah cairannya benar-benar bersih, Indi kemudian berdiri, kemudian dia membuka semua pakaiannya sendiri, sampai akhirnya dia telanjang bulat. Kemudian dia menghampiriku, menciumi bibirku.

"Puasin Aku Rick..!" katanya sambil memeluk tubuhku, kemudian dia menuju tempat tidur.

Sampai disana dia tidur telentang. Aku lalu mendekatinya, kutindih tubuhnya yang elok, kuciumi bibirnya, kemudian kujilati belakang telinga kirinya.

Dia mendesah keenakan, "Aahh..!"

Mendengar desahannya, aku tambah bernafsu, kemudian lidahku mulai menjalar ke payudaranya. Kujilati putingnya yang sebelah kiri, sedangkan tangan kananku meremas payudaranya yang sebelah kiri, sambil kadang kupelintir putingnya.

"Okkhh..! Erick sayang, terus Rick..! Okhh..!" desahnya mulai tidak menentu.

Puas dengan bukit kembarnya, badanku kugeser, kemudian kujilati pusarnya, jilatanku makin turun ke bawah. Kujilati sekitar pangkal pahanya, Indi mulai melenguh hebat, tangan kananku mulai mengelus bukit kemaluannya, lalu kumasukkan, mencari sesuatu yang mungkin kata orang itu adalah klitoris. Indi  semakin melenguh hebat, dia menggelinjang bak ikan yang kehabisan air. Kemudian aku mulai menjilati bibir kemaluannya, kukuakkan sedikit bibir kemaluannya, terlihat jelas sekali apa yang namanya klitoris, dengan agak sedikit menahan nafas, kusedot klitorisnya.

"Aakkhh.. Rick..," Indi menjerit agak keras, rupanya dia sudah orgasme, karena aku merasakan cairan yang menyemprot hidungku, kaget juga aku.

Mungkin ini pengalaman pertamaku menjilati kemaluan wanita, karena sebelumnya aku tidak pernah. Aku masih saja menjilati dan menyedot klitorisnya.

"Rick..! Masukin Rick..! Masukin..!" pinta dia dengan wajah memerah menahan nafsu.

Aku yang dari tadi memang sudah menahan nafsu, lalu bangkit dan mengarahkan senjataku ke mulut kemaluannya, kugesek-gesekkan dulu di sekitar bibir kemaluannya.

"Udah dong Rick..! Cepet masukin..!" katanya manja.

"Hmm.., rupanya ni cewek nggak sabaran banget." kataku dalam hati.

Kemudian kutarik tubuhnya ke bawah, sehingga kakinya menjuntai ke lantai, terlihat kemaluannya yang menyembul. Pahanya kulebarkan sedikit, kemudian kuarahkan kemaluanku ke arah liang senggama yang merah merekah. Perlahan tapi pasti kudorong tubuhku.

"Bless..!" akhirnya kemaluanku terbenam di dalam liang kemaluan Indri.

"Aaakkhh Rick..!" desah Indi.

Kaget juga dia karena sentakan kemaluanku yang langsung menerobos kemaluan Indi.

Aku mulai mengerakkan tubuhku, makin lama makin cepat, kadang- kadang sambil meremas- remas kedua bukit kembarnya. Kemudian kubungkukkan badanku, lalu kuhisap puting susunya.

"Aakkhh.., teruss.., Sayangg..! Teruss..!" erang Indi sambil tangannya memegang kedua pipiku.

Aku masih saja menggejot tubuhku, tiba- tiba tubuh Indi mengejang, "Aaakkhh.. Eriicckk..!"

Ternyata Indi sudah mencapai puncaknya duluan.

"Aku udah keluar duluan Sayang..!" kata Indi.

"Aku masih lama Ndi..," kataku sambil masih menggenjot tubuhku.

Kemudian kuangkat tubuh Indi ke tengah tempat tidur, secara spontan, kaki Indi melingkar di pinggangku. Aku menggenjot tubuhku, diikuti goyangan pantat Indi.

"Aakkhh Ndi.., punya Kamu enak sekali." kataku memuji, Indi hanya tersenyum saja.

Aku juga heran, kenapa aku bisa lama juga keluarnya. Tubuh kami berdua sudah basah oleh keringat, kami masih mengayuh bersama menuju puncak kenikmatan. Akhirnya aku tidak kuat juga menahan kenikmatan ini.

"Aahh Ndi.., Aku hampir keluar..," kataku agak terbata-bata.

"Aku juga Rick..! Kita keluarin sama-sama ya Sayang..!" kata Indi sambil menggoyang pantatnya yang bahenol itu.

Goyangan pantat Indi semakin liar. Aku pun tidak kalah sama halnya dengan Indi, frekuensi genjotanku makin kupercepat, sampai pada akhirnya, "Aaakkhh.., Ericckk..!" jerit Indi sambil menancapkan kukunya ke pundakku.

"Aakhh, Indii.., Aku sayang Kamuu..!" erangku sambil mendekap tubuh Indi.

Kami terdiam beberap saat, dengan nafas yang tersenggal-senggal seperti pelari marathon.

"Kamu hebat sekali Rick..!" puji Indi.

"Kamu juga Ndi..!" pujiku juga setelah agak lama kami berpelukan.

Kemudian kami cepat- cepat memakai pakain kami kembali karena takut adik tunangannya Indi keburu datang.
ReadmoreNIKMATNYA BERCUMBU DENGAN INDI - Best Portal Sex

Aku dan Rani Korban Seks - Cerita Seks

Aku lihat sekali lagi catatanku. Benar, itu rumah nomor 27.

Pasti itu rumah Om Andri, kerabat jauh ayahku.

Kuhampiri pintunya dan kutekan bel rumahnya.

Tidak lama kemudian dari balik pintu muncul muka yang sangat cantik.

"Cari siapa Mas?" tanyanya.

"Apa betul ini rumah Om Andri? nama saya Dodi."

"Oh.. sebentar yah, Pa.. ini Dodinya sudah datang", teriaknya ke dalam rumah.

Kemudian aku dipersilakan masuk, dan setelah Om Andri keluar dan menyambutku dia pun berkata dengan ramah, "Dodi, papimu barusan sudah nelpon, nanyain apa kamu sudah datang. Ini kenalin, anak Om, namanya Rani, terus anterin Dodi ke kamarnya, kan dia cape, biar dia istirahat dulu, nanti baru deh ngobrol-ngobrol lagi." Aku datang ke kota ini karena diterima disalah satu Universitas, dan oleh papi aku disuruh tinggal dirumah Om Andri. Rani ternyata baru kelas 1 SMA. Dia anak tunggal. Badannya tidak terlalu tinggi, mungkin sekitar 165 cm, tapi mukanya sangat lucu, dengan bibir yang agak penuh. Di sini aku diberi kamar di lantai 2, bersebelahan dengan kamar Rani.

Aku sekarang sudah 3 bulan tinggal di rumah Om Andri, dan karena semuanya ramah, aku jadi betah. Lebih lagi Rani. Kadang-kadang dia suka tanya-tanya pelajaran sekolah, dan aku berusaha membantu. Aku sering mencuri-curi untuk memperhatikan Rani. Kalau di rumah, dia sering memakai daster yang pendek hingga pahanya yang putih mulus menarik perhatianku. Selain itu buah dadanya yang baru mekar juga sering bergoyang-goyang di balik dasternya. Aku jadi sering membayangkan betapa indahnya badan Rani seandainya sudah tidak memakai apa-apa lagi.

Suatu hari pulang kuliah sesampainya di rumah ternyata sepi sekali. Di ruang keluarga ternyata Rani sedang belajar sambil tiduran di atas karpet.

"Sepi sekali, sedang belajar yah? Tante kemana?" tanyaku.

"Eh.. Dodi, iya nih, aku minggu depan ujian, nanti aku bantuin belajar yah.., Mami sih lagi keluar, katanya sih ada perlu sampai malem."

"Iya deh, aku ganti baju dulu."

Kemudian aku masuk ke kamarku, ganti dengan celana pendek dan kaos oblong. Terus aku tidur-tiduran sebentar sambil baca majalah yang baru kubeli. Tidak lama kemudian aku keluar kamar, lapar, jadi aku ke meja makan. Terus aku teriak memanggil Rani mengajak makan bareng. Tapi tidak ada sahutan. Dan setelah kutengok ke ruang keluarga, ternyata Rani sudah tidur telungkup di atas buku yang sedang dia baca, mungkin sudah kecapaian belajar, pikirku. Nafasnya turun naik secara teratur. Ujung dasternya agak tersingkap, menampakkan bagian belakang pahanya yang putih. Bentuk pantatnya juga bagus.

Memperhatikan Rani tidur membuatku terangsang. Aku merasa kemaluanku mulai tegak di balik celana pendek yang kupakai. Tapi karena takut ketahuan, aku segera ke ruang makan. Tapi nafsu makanku sudah hilang, maka itu aku cuma makan buah, sedangkan otakku terus ke Rani. Kemaluanku juga semakin berdenyut. Akhirnya aku tidak tahan, dan kembali ke ruang keluarga. Ternyata posisi tidur Rani sudah berubah, dan dia sekarang telentang, dengan kaki kiri dilipat keatas, sehingga dasternya tersingkap sekali, dan celana dalam bagian bawahnya kelihatan. Celana dalamnya berwarna putih, agak tipis dan berenda, sehingga bulu-bulunya membayang di bawahnya. Aku sampai tertegun melihatnya. Kemaluanku tegak sekali di balik celana pendekku. Buah dadanya naik turun teratur sesuai dengan nafasnya, membuat kemaluanku semakin berdenyut. Ketika sedang nikmat-nikmat memandangi, aku dengar suara mobil masuk ke halaman. Ternyata Om Andri sudah pulang. Aku pun cepat-cepat naik kekamarku, pura-pura tidur.

Dan aku memang ketiduran sampai agak sore, dan aku baru ingat kalau belum makan. Aku segera ke ruang makan dan makan sendirian. Keadaan rumah sangat sepi, mungkin Om dan Tante sedang tidur. Setelah makan aku naik lagi ke atas, dan membaca majalah yang baru kubeli. Sedang asyik membaca, tiba-tiba kamarku ada yang mengetuk, dan ternyata Rani.

"Dodi, aku baru dibeliin kalkulator nih, entar aku diajarin yah cara makainya. Soalnya rada canggih sih", katanya sambil menunjukkan kalkulator barunya.

"Wah, ini kalkulator yang aku juga pengin beli nih. Tapi mahal. Iya deh, aku baca dulu manualnya. Entar aku ajarin deh, kayaknya sih tidak terlalu beda dengan komputer", sahutku.

"Ya sudah, dibaca dulu deh. Rani juga mau mandi dulu sih", katanya sambil berlalu ke teras atas tempat menjemur handuk. Aku masih berdiri di pintu kamarku dan mengikuti Rani dengan pandanganku. Ketika mengambil handuk, badan Rani terkena sinar matahari dari luar rumah. Dan aku melihat bayangan badannya dengan jelas di balik dasternya. Aku jadi teringat pemandangan siang tadi waktu dia tidur. Kemudian sewaktu Rani berjalan melewatiku ke kamar mandi, aku pura-pura sedang membaca manual kalkulator itu. Tidak lama kemudian aku mulai mendengar suara Rani yang sedang mandi sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Kembali imajinasiku mulai membayangkan Rani yang sedang mandi, dan hal itu membuat kemaluanku agak tegang. Karena tidak tahan sendiri, aku segera mendekati kamar mandi dan mencari cara untuk mengintipnya, dan aku menemukannya. Aku mengambil kursi dan naik di atasnya untuk mengintip lewat celah ventilasi kamar mandi. Pelan-pelan aku mendekatkan mukaku ke celah itu, dan ya Tuhan... aku! Melihat Rani yang sedang menyabuni badannya, mengusap-usap dan meratakan sabun ke seluruh lekuk tubuhnya. Badannya sangat indah, jauh lebih indah dari yang kubayangkan. Lehernya yang putih, pundaknya, buah dadanya, putingnya yang kecoklatan, perutnya yang rata, pantatnya, bulu-bulu di sekitar kemaluannya, pahanya, semuanya sangat indah. Dan kemaluanku pun menjadi sangat tegang.Tapi aku tidak berlama-lama mengintipnya, karena selain takut ketahuan, juga aku merasa tidak enak mengintip orang mandi. Aku segera ke kamarku dan berusaha menenangkan perasaanku yang tidak karuan.

Malamnya sehabis makan, aku dan Om Andri sedang mengobrol sambil nonton TV, dan Om Andri bilang kalau besok mau keluar kota dengan istrinya seminggu. Dia pesan supaya aku membantu Rani kalau butuh bantuan. Tentu saja aku bersedia, malah jantungku menjadi berdebar-debar. Tidak lama kemudian Rani mendekati kita.

"Dodi, tolongin aku dong, ajarin soal-soal yang buat ujian, ayo!" katanya sambil menarik-narik tanganku. Aku mana bisa menolak. Aku pun mengikuti Rani berjalan ke kamarnya dengan diiringi Om Andri yang senyum-senyum melihat Rani yang manja. Beberapa menit kemudian kita sudah terlibat dengan soal-soal yang memang butuh konsentrasi. Rani duduk sedangkan aku berdiri di sampingnya. Aku bersemangat sekali mengajarinya, karena kalau aku menunduk pasti belahan dada Rani kelihatan dari dasternya yang longgar. Aku lihat Rani tidak pakai beha. Kemaluanku berdenyut-denyut, tegak di balik celana dan kelihatan menonjol. Aku merasa bahwa Rani tahu kalau aku suka curi melihat buah dadanya, tapi dia tidak berusaha merapikan dasternya yang semakin terbuka sampai aku bisa melihat putingnya. Karena sudah tidak tahan, sambil pura-pura menjelaskan soal aku merapatkan badanku sampai kemaluanku menempel ke punggungnya. Rani pasti juga bisa merasakan kemaluanku yang tegak. Rani sekarang cuma diam saja dengan muka menunduk.

"Rani, kamu cantik sekali.." kataku dengan suara yang sudah bergetar, tapi Rani diam saja dengan muka semakin menunduk. Kemudian aku meletakkan tanganku di pundaknya. Dan karena dia diam saja, aku jadi makin berani mengusap-usap pundaknya yang terbuka, karena tali dasternya sangat kecil. Sementara kemaluanku semakin menekan pangkal lengannya, usapan tanganku pun semakin turun ke arah dadanya. Aku merasa nafas Rani sudah memburu seperti suara nafasku juga. Aku jadi semakin nekad. Dan ketika tanganku sudah sampai kepinggiran buah dada, tiba-tiba tangan Rani mencengkeram dan menahan tanganku. Mukanya mendongak kearahku.

"Dodi aku mau diapain.." Rintihnya dengan suara yang sudah bergetar. Melihat mulutnya yang setengah terbuka dan agak bergetar-getar, aku jadi tidak tahan lagi. Aku tundukkan muka, kemudian mendekatkan bibirku ke bibirnya. Ketika bibir kita bersentuhan, aku merasakan bibirnya yang sangat hangat, kenyal, dan basah. Aku pun melumat bibirnya dengan penuh perasaan, dan Rani membalas ciumanku, tapi tangannya belum melepas tanganku. Dengan pelan-pelan badan Rani aku bimbing, aku angkat agar berdiri berhadapan denganku. Dan masih sambil saling melumat bibir, aku peluk badannya dengan gemas. Buah dadanya keras menekan dadaku, dan kemaluanku juga menekan perutnya.

Pelan-pelan lidahku mulai menjulur menjelajah ke dalam mulutnya, dan mengait-ngait lidahnya, membuat nafas Rani semakin memburu, dan tangannya mulai mengusap-usap punggungku. Tanganku pun tidak tinggal diam, mulai turun ke arah pinggulnya, dan kemudian dengan gemas mulai meremas-remas pantatnya. Pantatnya sangat empuk. Aku remas-remas terus dan aku semakin rapatkan kebadanku hingga kemaluanku terjepit perutnya. Tidak lama kemudian tanganku mulai ke atas pundaknya. Dengan gemetar tali dasternya kuturunkan dan dasternya turun ke bawah dan teronggok di kakinya. Kini Rani tinggal memakai celana dalam saja. Aku memeluknya semakin gemas, dan ciumanku semakin turun. Aku mulai menciumi dan menjilat-jilat lehernya, dan Rani mulai mengerang-erang. Tangannya mengelus-elus belakang kepalaku.

Tiba-tiba aku berhenti menciuminya. Aku renggangkan pelukanku. Aku pandangi badannya yang setengah telanjang. Buah dadanya bulat sekali dengan puting yang tegak bergetar seperti menantangku. Kemudian mulutku pelan-pelan kudekatkan ke buah dadanya. Dan ketika mulutku menyentuh buah dadanya, Rani mengerang lagi lebih keras sambil mendongakkan kepalanya, dan menekan pantat dan dadanya ke arahku. Nafsuku semakin naik. Aku ciumi susunya dengan ganas, putingnya aku mainkan dengan lidahku, dan susunya yang sebelah aku mainkan dengan tanganku.

"Aduuhh.. aahh.. aahh", Rani semakin merintih-rintih ketika dengan gemas putingnya aku gigit-gigit sedikit. Badannya menggeliat-geliat membuatku semakin bernafsu untuk terus mencumbunya. Tangan Rani kemudian menelusup kebalik bajuku dan mengusap kulit punggungku.

"Dodiii.. aahh.. baju kamu dibuka dong.. aahh.." Akupun mengikuti keinginannya. Tapi selain baju, celana juga kulepas, hingga aku juga cuma pakai celana dalam. Mulutnya kembali kucium dan tanganku memainkan susunya. Penisku semakin keras karena Rani menggesek-gesekkan pinggulnya sembari mengerang-erang. Tanganku mulai menyelinap ke celana dalamnya. Bulu kemaluannya aku usap-usap, dan kadang aku garuk-garuk. Aku merasa vaginanya sudah basah ketika jariku sampai ke mulut vaginanya. Dan ketika tanganku mulai mengusap clitorisnya, ciumannya di mulutku semakin liar. Mulutnya mengisap mulutku dengan keras. Clitorisnya kuusap, kuputar-putar, makin lama semakin kencang, dan semakin kencang. Pantat Rani ikut bergoyang, dan semakin rapat menekan, sehingga penisku semakin berdenyut. Sementara clitorisnya masih aku putar-putar, jariku yang lain juga mengusap bibir vaginanya. Rani menggelinjang semakin keras, dan pada saat tanganku mengusap semakin kencang, tiba-tiba tanganku dijepit dengan pahanya,dan badan Rani tegang sekali dan tersentak-sentak selama beberapa saat.

"aahh aahh Dodiii.. adduuuhh aahh aahh aahh",

Dan setelah beberapa saat akhirnya jepitannya berangsur semakin mengendur. Tapi mulutnya masih mengerang-erang dengan pelan.

"Dod.. aku boleh yah pegang punya kamu", tiba-tiba bisiknya di kupingku. Aku yang masih tegang sekali merasa senang sekali.

"Iyaa.. boleh.." bisikku. Kemudian tangannya kubimbing ke celana dalamku.

"Aahh..." Akupun mengerang ketika tangannya menyentuh penisku. Terasa nikmat sekali. Rani juga terangsang lagi, karena sambil mengusap-usap kepala penisku, mulutnya mengerang di kupingku. Kemudian mulutnya kucium lagi dengan ganas. Dan penisku mulai di genggam dengan dua tangannya, di urut-urut dan cairan pelumas yang keluar diratakan keseluruh batangku. Badanku semakin menegang. Kemudian penisku mulai dikocok-kocok, semakin lama semakin kencang, dan pantatnya juga ikut digesekkan kebadanku. Tidak lama kemudian aku merasa badanku bergetar, terasa ada aliran hangat di seluruh tubuhku, aku merasa aku sudah hampir orgasme.

"Raannniii.. aku hampir keluar.." bisikku yang membuat genggamannya semakin erat dan kocokannya makin kencang.

"Aahh.. Ranniii.. uuuhh.. aahh.." akhirnya dari penisku memancar cairan yang menyembur kemana-mana. Badanku tersentak-sentak. Sementara penisku masih mengeluarkan cairan, tangan Rani tidak berhenti mengurut-urut, sampai rasanya semua cairanku sudah diperas habis oleh tangannya. Aku merasa sperma yang mengalir dari sela-sela jarinya membuat Rani semakin gemas. Spermaku masih keluar untuk beberapa saat lagi sampai aku merasa lemas sekali.

Akhirnya kita berdua jatuh terduduk di lantai. Dan tangan Rani berlumuran spermaku ketika dikeluarkan dari celana dalamku. Kita berpandangan, dan bibirnya kembali kukecup, sedangkan tangannya aku bersihkan pakai tissue. Dan secara kebetulan aku melihat ke arah jam.

"Astaga, sekarang sudah jam 11! Wah, sudah malam sekali nih, aku ke kamarku dulu yah, takut Om curiga nanti.." kataku sembari berharap mudah-mudahan suara desahan kita tidak sampai ke kuping orang tuanya. Setelah Rani mengangguk, aku bergegas menyelinap ke kamarku.Malam itu aku tidur nyenyak sekali.

Pagi itu aku bangun kesiangan, seisi rumah rupanya sudah pergi semua. Aku pun segera mandi dan berangkat ke kampus. Meskipun hari itu kuliah sangat padat, pikiranku tidak bisa konsentrasi sedikit pun, yang kupikirkan cuma Rani. Aku pulang ke rumah sekitar jam 3 sore, dan rumah masih sepi. Kemudian ketika aku sedang nonton TV di ruang keluarga sehabis ganti baju, Rani keluar dari kamarnya, sudah berpakaian rapi. Dia mendekat dan mukanya menunduk.

"Dodi, kamu ada acara nggak? Temani aku nonton dong.."

"Eh.. apa? Iya, iya aku tidak ada acara, sebentar yah aku ganti baju dulu" jawabku, dan aku buru-buru ganti baju dengan jantung berdebaran. Setelah siap, aku pun segera mengajaknya berangkat. Rani menyarankan agar kita pergi dengan mobilnya. Aku segera mengeluarkan mobil, dan ketika Rani duduk di sebelahku, aku baru sadar kalau dia pakai rok pendek, sehingga ketika duduk ujung roknya makin ke atas. Sepanjang perjalanan ke bioskop mataku tidak bisa lepas melirik kepahanya.

Sesampainya di bioskop, aku beranikan memeluk pinggangnya, dan Rani tidak menolak. Dan sewaktu mengantri di loket kupeluk dia dari belakang. Aku tahu Rani merasa penisku sudah tegang karena menempel di pantatnya. Rani meremas tanganku dengan kuat. Kita memesan tempat duduk paling belakang, dan ternyata yang menonton tidak begitu banyak, dan di sekeliling kita tidak ditempati. Kami segera duduk dengan tangan masih saling meremas. Tangannya sudah basah dengan keringat dingin, dan mukanya selalu menunduk. Ketika lampu mulai dipadamkan, aku sudah tidak tahan, segera kuusap mukanya, kemudian kudekatkan ke mukaku, dan kita segera berciuman dengan gemasnya. Lidahku dan lidahnya saling berkaitan, dan kadang-kadang lidahku digigitnya lembut. Tanganku segera menyelinap ke balik bajunya. Dan karena tidak sabar, langsung saja kuselinapkan ke balik behanya, dan susunya yang sebelah kiri aku remas dengan gemas. Mulutku langsung dihisap dengan kuat oleh Rani. Tanganku pun semakin gemas meremas susunya, memutar-mutar putingnya, begitu terus, kemudian pindah ke susu yang kanan, dan Rani mulai mengerang di dalam mulutku, sementara penisku semakin meronta menuntut sesuatu.

Kemudian tanganku mulai mengelus pahanya, dan kuusap-usap dengan arah semakin naik ke atas, ke pangkal pahanya. Roknya kusingkap ke atas, sehingga sambil berciuman, di keremangan cahaya, aku bisa melihat celana dalamnya. Dan ketika tanganku sampai di selangkangannya, mulut Rani berpindah menciumi kupingku sampai aku terangsang sekali. Celana dalamnya sudah basah. Tanganku segera menyelinap ke balik celana dalamnya, dan mulai memainkan clitorisnya. Kuelus-elus pelan-pelan, kuusap dengan penuh perasaan, kemudian kuputar-putar, semakin lama semakin cepat. Tiba-tiba tangannya mencengkram tanganku, dan pahanya juga menjepit telapak tanganku, sedangkan kupingku digigitnya sambil mendesis-desis. Badannya tersentak-sentak beberapa saat.

"Dodi.. aduuuhh.. aku tidak tahan sekali.. berhenti dulu yaahh.. nanti di rumah ajaa.." rintihnya. Aku pun segera mencabut tanganku dari selangkangannya.

"Dodi.. sekarang aku mainin punya kamu yaahh.." katanya sambil mulai meraba celanaku yang sudah menonjol. Kubantu dia dengan kubuka ritsluiting celana, kemudian tangannya menelusup, merogoh, dan ketika akhirnya menggenggam penisku, aku merasa nikmat luar biasa. Penisku ditariknya keluar celana, sehingga mengacung tegak.

"Dodi.. ini sudah basah.. cairannya licin.." rintihnya di kupingku sambil mulai digenggam dengan dua tangan. Tangan yang kiri menggenggam pangkal penisku, sedangkan yang kanan ujung penisku dan jari-jarinya mengusap-usap kepala penis dan meratakan cairannya.

"Rani.. teruskan sayang.." kataku dengan ketegangan yang semakin menjadi-jadi. Aku merasa penisku sudah keras sekali. Rani meremas dan mengurut penisku semakin cepat. Aku merasa spermaku sudah hampir keluar. Aku bingung sekali karena takut kalau sampai keluar bakal muncrat kemana-mana.

"Rani.. aku hampir keluar nih.., berhenti dulu deh.." kataku dengan suara yang tidak yakin, karena masih keenakan.

"Waahh.. Rani belum mau berhenti.. punya kamu ini bikin aku gemes.." rengeknya.

"Terus gimana.., apa enaknya kita pulang saja yuk..!" ajakku, dan ketika Rani mengangguk setuju, segera kurapikan celanaku, juga pakaian Rani, dan segera kita keluar bioskop meskipun filmnya belum selesai. Di mobil tangan Rani kembali mengusap-usap celanaku. Dan aku diam saja ketika dia buka ritsluitingku dan menelusupkan tangannya mencari penisku. Aduh, rasanya nikmat sekali. Dan penisku makin berdenyut ketika dia bilang, "Nanti aku boleh yah nyiumin ininya yah.." Aku pengin segera sampai kerumah.

Dan, akhirnya sampai juga. Kita berjalan sambil berpelukan erat-erat. Sewaktu Rani membuka pintu rumah, dia kupeluk dari belakang, dan kuciumi samping lehernya. Tanganku sudah menyingkapkan roknya ke atas, dan tanganku meremas pinggul dan pantatnya dengan gemas. Rani kubimbing ke ruang keluarga. Sambil berdiri kuciumi bibirnya, kulumat habis mulutnya, dan dia membalas dengan sama gemasnya. Pakaiannya kulucuti satu persatu sambil tetap berciuman. Sambil melepas bajunya, aku mulai meremasi susunya yang masih dibalut beha. Dengan tak sabar behanya segera kulepas juga. Kemudian roknya, dan terakhir celana dalamnya juga kuturunkan dan semuanya teronggok di karpet.

Badannya yang telanjang kupeluk erat-erat. Ini pertama kalinya aku memeluk seorang gadis dengan telanjang bulat. Dan gadis ini adalah Rani yang sering aku impikan tapi tidak terbayangkan untuk menyentuhnya. Semuanya sekarang ada di depan mataku. Kemudian tangan Rani juga melepaskan bajuku, kemudian celana panjangku, dan ketika melepas celana dalamku, Rani melakukannya sambil memeluk badanku. Penisku yang sudah memanjang dan tegang sekali segera meloncat keluar dan menekan perutnya. Uuuhh, rasanya nikmat sekali ketika kulit kita yang sama-sama telanjang bersentuhan, bergesekan, dan menempel dengan ketat. Bibir kita saling melumat dengan nafas yang semakin memburu. Tanganku meremas pantatnya, mengusap punggungnya, mengelus pahanya, dan meremasi susunya dengan bergantian. Tangan Rani juga sudah menggenggam dan mengelusi penisku. Badan Rani bergelinjangan, dan dari mulutnya keluar rintihan yang semakin membangkitkan birahiku. Karena rumah memang sepi, kita jadi mengerang dengan bebas.

Kemudian sambil tetap meremasi penisku, Rani mulai merendahkan badannya, sampai akhirnya dia berlutut dan mukanya tepat di depan selangkanganku. Matanya memandangi penisku yang semakin keras di dalam genggamannya, dan mulutnya setengah terbuka. Penisku terus dinikmati, dipandangi tanpa berkedip, dan rupanya makin membuat nafsunya memuncak. Mulutnya perlahan mulai didekatkan ke kepala penisku. Aku melihatnya dengan gemas sekali. Kepalaku sampai terdongak ketika akhirnya bibirnya mengecup kepala penisku. Tangannya masih menggenggam pangkal penisku, dan mengelusnya pelan-pelan. Mulutnya mulai mengecupi kepala penisku berulang-ulang, kemudian memakai lidahnya untuk meratakan cairan penisku. Lidahnya memutar-mutar, kemudian mulutnya mulai mengulum dengan lidah tetap memutari kepala penisku. Aku semakin mengerang, dan karena tidak tahan, kudorong penisku sampai terbenam kemulutnya. Aku rasa ujungnya sampai ketenggorokannya. Rasanya nikmat sekali. Kemudian pelan-pelan penisku disedot-sedot dan dimaju mundurkan di dalam mulutnya. Rambutnya kuusap-usap dan kadang-kadang kepalanya aku tekan-tekan agar penisku semakin nikmat. Isapan mulutnya dan lidahnya yang melingkar-lingkar membuat aku merasa sudah tidak tahan. Apalagi sewaktu Rani melakukannya semakin cepat, dan semakin cepat, dan semakin cepat.

Ketika akhirnya aku merasa spermaku mau muncrat, segera kutarik penisku dari mulutnya. Tapi Rani menahannya dan tetap menghisap penisku. Maka aku pun tidak bisa menahan lebih lama lagi, spermaku muncrat di dalam mulutnya dengan rasa nikmat yang luar biasa. Spermaku langsung ditelannya dan dia terus menghisapi dan menyedot penisku sampai spermaku muncrat berkali-kali. Badanku sampai tersentak-sentak merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Meskipun spermaku sudah habis, mulut Rani masih terus menjilat. Akupun akhirnya tidak kuat lagi berdiri dan akhirnya dengan nafas sama-sama tersengal-sengal kita berbaring di karpet dengan mata terpejam.

"Thanks ya Ran, tadi itu nikmat sekali", kataku berbisik.

"Ah.. aku juga suka kok.., makasih juga kamu ngebolehin aku mainin kamu."

Kemudian ujung hidungnya kukecup, matanya juga, kemudian bibirnya. Mataku memandangi tubuhnya yang terbaring telanjang, alangkah indahnya. Pelan-pelan kuciumi lehernya, dan aku merasa nafsu kami mulai naik lagi. Kemudian mulutku turun dan menciumi susunya yang sebelah kanan sedangkan tanganku mulai meremas susu yang kiri. Rani mulai menggeliat-geliat, dan erangannya membuat mulut dan tanganku tambah gemas memainkan susu dan putingnya. Aku terus menciumi untuk beberapa saat, dan kemudian pelan-pelan aku mulai mengusapkan tanganku keperutnya, kemudian ke bawah lagi sampai merasakan bulu kemaluannya, kuelus dan kugaruk sampai mulutnya menciumi kupingku. Pahanya mulai aku renggangkan sampai agak mengangkang. Kemudian sambil mulutku terus menciumi susunya, jariku mulai memainkan clitorisnya yang sudah mulai terangsang juga. Cairan vaginanya kuusap-usapkan ke seluruh permukaan vaginanya, juga ke clitorisnya, dan semakin licin clitoris dan vaginanya, membuat Rani semakin menggelinjang dan mengerang. clitorisnya kuputar-putar terus, juga mulut vaginanya bergantian.

"Ahh.. Dodiii.. aahh.. terusss... aahh.. sayaanggg.." mulutnya terus meracau sementara pinggulnya mulai bergoyang-goyang. Pantatnya juga mulai terangkat-angkat. Aku pun segera menurunkan kepalaku ke arah selangkangannya, sampai akhirnya mukaku tepat di selangkangannya. Kedua kakinya kulipat ke atas, kupegangi dengan dua tanganku dan pahanya kulebarkan sehingga vagina dan clitorisnya terbuka di depan mukaku. Aku tidak tahan memandangi keindahan vaginanya. Lidahku langsung menjulur dan mengusap clitoris dan vaginanya. Cairan vaginanya kusedot-sedot dengan nikmat. Mulutku menciumi mulut vaginanya dengan ganas, dan lidahku kuselip-selipkan ke lubangnya, kukait-kaitkan, kugelitiki, terus begitu, sampai pantatnya terangkat, kemudian tangannya mendorong kepalaku sampai aku terbenam di selangkangannya. Aku jilati terus, clitorisnya kuputar dengan lidah, kuhisap, kusedot, sampai Rani meronta-ronta. Aku merasa penisku sudah tegak kembali, dan mulai berdenyut-denyut.

"Dodii.. aku tidak tahan.. aduuhh.. aahh.. enaakk sekaliii.. " rintihnya berulang-ulang.

Mulutku sudah berlumuran cairan vaginanya yang semakin membuat nafsuku tidak tertahankan. Kemudian kulepaskan mulutku dari vaginanya. Sekarang giliran penisku kuusap-usapkan ke clitoris dan bibir vaginanya, sambil aku duduk mengangkang juga. Pahaku menahan pahanya agar tetap terbuka. Rasanya nikmat sekali ketika penisku digeser-geserkan di vaginanya. Rani juga merasakan hal yang sama, dan sekarang tangannya ikut membantu dan menekan penisku digeser-geserkan di clitorisnya.

"Raniii.. aahh.. enakkk.. aahh.."

"aahh.. iya.. eeennaakkk sekaliii.."

Kita saling merintih. Kemudian karena penisku semakin gatal, aku mulai menggosokkan kepala penisku ke mulut vaginanya. Rani semakin menggelinjang. Akhirnya aku mulai mendorong pelan sampai kepala penisku masuk ke vaginanya.

"Aduuuhh.. Dodii.. saakiiitt.. aadduuuhh.. jaangaann.." rintihnya

"Tahan dulu sebentar... Nanti juga hilang sakitnya.." kataku membujuk

Kemudian pelan-pelan penisku aku keluarkan, kemudian kutekan lagi, kukeluarkan lagi, kutekan lagi, kemudian akhirnya kutekan lebih dalam sampai masuk hampir setengahnya. Mulut Rani sampai terbuka tapi sudah tidak bisa bersuara.

Punggungnya terangkat dari karpet menahan desakan penisku. Kemudian pelan-pelan kukeluarkan lagi, kudorong lagi, kukeluarkan lagi, terus sampai dia tenang lagi. Akhirnya ketika aku mendorong lagi kali ini kudorong sampai amblas semuanya ke dalam. Kali ini kita sama-sama mengerang dengan keras. Badan kita berpelukan, mulutnya yang terbuka kuciumi, dan pahanya menjepit pinggangku dengan keras sekali sehingga aku merasa ujung penisku sudah mentok ke dinding vaginanya. Kita tetap berpelukan dengan erat saling mengejang untuk beberapa saat lamanya. Mulut kami saling menghisap dengan kuat. Kita sama-sama merasakan keenakan yang tiada taranya. Setelah itu pantatnya sedikit demi sedikit mulai bergoyang, maka aku pun mulai menggerakkan penisku pelan-pelan, maju, mundur, pelan, pelan, semakin cepat, semakin cepat, dan goyangan pantat Rani juga semakin cepat.

"Dodii.. aduuuhh.. aahh.. teruskan sayang.. aku hampir niihh.." rintihnya.

"Iya.. nihh.. tahan dulu.. aku juga hampirr.. kita bareng ajaa.." kataku sambil terus menggerakkan penis semakin cepat. Tanganku juga ikut meremasi susunya kanan dan kiri. Penisku semakin keras, kuhunjam-hunjamkan ke dalam vaginanya sampai pantatnya terangkat dari karpet. Dan aku merasa vaginanya juga menguruti penisku di dalam. Penisku kutarik dan kutekan semakin cepat, semakin cepat.. dan semakin cepat.. dannn.."Raaniii.. aku mau keluar niihh..""Iyaa.. keluarin saja.. Rani juga keluar sekarang niiihh."Aku pun menghunjamkan penisku keras-keras yang disambut dengan pantat Rani yang terangkat ke atas sampai ujung penisku menumbuk dinding vaginanya dengan keras. Kemudian pahanya menjepit pahaku dengan keras sehingga penisku makin mentok, tangannya mencengkeram punggungku. Vaginanya berdenyut-denyut. Spermaku memancar, muncrat dengan sebanyak-banyaknya menyirami vaginanya.

"aahh... aahh.. aahh.." kita sama-sama mengerang, dan vaginanya masih berdenyut, mencengkeram penisku, sehingga spermaku berkali-kali menyembur. Pantatnya masih juga berusaha menekan-nekan dan memutar sehingga penisku seperti diperas. Kita orgasme bersamaan selama beberapa saat, dan sepertinya tidak akan berakhir. Pantatku masih ditahan dengan tangannya, pahanya masih menjepit pahaku erat-erat, dan vaginanya masih berdenyut meremas-remas penisku dengan enaknya sehingga sepertinya spermaku keluar semua tanpa tersisa sedikitpun.

"aahh.. aahh.. aduuuhh..." Kita sudah tidak bisa bersuara lagi selain mengerang-erang keenakan.

Ketika sudah mulai kendur, kuciumi Rani dengan penis masih di dalam vaginanya. Kita saling berciuman lagi untuk beberapa saat sambil saling membelai. Kuciumi terus sampai akhirnya aku menyadari kalau Rani sedang menangis. Tanpa berbicara kita saling menghibur. Aku menyadari bahwa selaput daranya telah robek karena penisku. Dan ketika penisku kucabut dari sela-sela vaginanya memang mengalir darah yang bercampur dengan spermaku. Kita terus saling membelai, dan Rani masih mengisak di dadaku, sampai akhirnya kita berdua tertidur kelelahan dengan berpelukan.

Aku terbangun sekitar jam 11 malam, dan kulihat Rani masih terlelap di sampingku masih telanjang bulat. Segera aku bangun dan kuselimuti badannya pelan-pelan. Kemudian aku segera ke kamar mandi, kupikir shower dengan air hangat pasti menyegarkan. Aku membiarkan badanku diguyur air hangat berlama-lama, dan memang menyegarkan sekali. Waktu itu kupikir aku sudah mandi sekitar 20 menit, ketika aku merasa kaget karena ada sesuatu yang menyentuh punggungku. Belum sempat aku menoleh, badanku sudah dilingkari sepasang tangan. Ternyata Rani sudah bangun dan masuk ke kamar mandi tanpa kuketahui. Tangannya memelukku dari belakang, dan badannya merapat di punggungku.

"Aku ikut mandi yah..?" katanya.

Aku tidak menjawab apa-apa. Hanya tanganku mengusap-usap tangannya yang ada di dadaku, sambil menenangkan diriku yang masih merasa kaget. Sambil tetap memelukku dari belakang, Rani mengambil sabun dan mulai mengusapkannya di dadaku. Nafsuku mulai naik lagi, apalagi aku juga merasakan susunya yang menekan punggungku. Usapan tangan Rani mulai turun ke arah perutku, dan penisku mulai berdenyut dan berangsur menjadi keras. Tidak lama kemudian tangan Rani sampai di selangkanganku dan mulai mengusap penisku yang semakin tegak. Sambil menggenggam penisku, Rani mulai menciumi belakang leherku sambil mendesah-desah, dan badannya semakin menekan badanku. Selangkangan dan susunya mulai digesek-gesekkan ke pantat dan punggungku, dan tangannya yang menggenggam penisku mulai meremas-remas dan digerakkan ke pangkal dan kepala penisku berulang-ulang sehingga aku merasakan kenikmatan yang luar biasa.

"Raniii oohh.. nikmat sekali sayang."

"Dodiii uuuhh", erangnya sambil lidahnya semakin liar menciumi leherku. Aku yang sudah merasa gemas sekali segera menarik badannya, dan sekarang posisi kita berbalik. Aku sekarang memeluk badannya dari belakang, kemudian pahanya kurenggangkan sedikit, dan penisku diselinapkan di antara pahanya, dan ujungnya yang nongol di depan pahanya langsung di pegang lagi oleh Rani. Tangan kiriku segera meremasi susunya dengan gemas sekali, dan tangan kananku mulai meremasi bulu kemaluannya. Kemudian ketika jari tangan kananku mulai menyentuh clitorisnya, Rani pun mengerang semakin keras dan pahanya menjepit penisku, dan pantatnya mulai bergerak-gerak yang membuat aku semakin merasa nikmat. Mukanya menengok ke arahku, dan mulutnya segera kuhisap dengan keras. Lidah kami saling membelit, dan jari tanganku mulai mengelusi clitorisnya yang semakin licin. Kepala penisku juga mulai dikocok-kocok dengan lembut.

"Rani aku tidak tahan nih aduuuhh."

"Iya Dod.. aku juga sudah tidak tahan.. uuuhh.. uuuhh."

Badan Rani segera kubungkukkan, dan kakinya kurenggangkan. Aku segera mengarahkan dan menempelkan ujung penisku ke arah bibir vaginanya yang sudah menganga lebar menantang.

"Dodi.. cepat masukkan sayang cepat uuhh ayoo." Aku yang sudah gemas sekali segera menekan penisku sekuat tenaga sehingga langsung amblas semua sampai ke dasar vaginanya. Rani menjerit keras sekali. Mukanya sampai mendongak.

"aahh.. kamu kasar sekali.. aduuhh sakit aduuhh.." Aku yang sudah tidak sabar mulai menggerakkan penisku maju mundur, kuhunjam-hunjamkan dengan kasar yang membuat Rani semakin keras mengerang-erang. Susunya aku remas-remas dengan dua tanganku. Tidak lama kemudian Rani mulai menikmati permainan kita, dan mulai menggoyangkan pantatnya. Vaginanya juga mulai berdenyut meremasi penisku. Aku menjadi semakin kasar, dan penisku yang sudah keras sekali terus mendesak dasar vaginanya. Dan kalau penisku sedang maju membelah vaginanya, tanganku juga menarik pantatnya ke belakang sehingga penisku menghunjam dengan kuat sekali. Tapi tiba-tiba Rani melepaskan diri.

"hh sekarang giliranku aku sudah hampir sampai." katanya. Kemudian aku disuruh duduk selonjor di lantai di antara kaki Rani yang mulai menurunkan badannya. Penisku yang mengacung ke atas mulai dipegang Rani, dan di arahkan ke bibir vaginanya.

Tiba-tiba Rani menurunkan badannya duduk di pangkuanku sehingga penisku langsung amblas ke dalam vaginanya. Kita sama-sama mengerang dengan keras, dan mulutnya yang masih menganga kuciumi dengan gemas. Kemudian pantatnya mulai naik turun, makin lama makin keras. Rani melakukannya dengan ganas sekali. Pantatnya juga diputar-putar sehingga aku merasa penisku seperti dipelintir.

"Dodii.. aku.. aku.. sudah.. hampirrr, uuuhh..." Erangnya sambil terus menghunjam-hunjamkan pantatnya. Mulutku beralih dari mulutnya ke susunya yang bulat sekali. Putingnya kugigit-gigit, dan lidahku berputar menyapu permukaan susunya. Susunya kemudian kusedot dan kukenyot dengan keras, membuat gerakan Rani semakin liar. Tidak lama kemudian Rani menghunjamkan pantatnya dengan keras sekali dan terus menekan sambil memutar pantatnya.

"Sekaranggg aahh sekaranggg Dodi, sekaranggg", Rani berteriak-teriak sambil badannya berkelojotan. Vaginanya berdenyutan keras sekali. Mulutnya menciumi mulutku, dan tangannya memelukku sangat keras. Rani orgasme selama beberapa detik, dan setelah itu ketegangan badannya berangsur mengendur.

"Dod, makasih yah.., sekarang aku pengin ngisep boleh yah..?" katanya sambil mengangkat pantatnya sampai penisku lepas dari vaginanya. Rani kemudian menundukkan mukanya dan segera memegang penisku yang sangat keras, berdenyut, dan ingin segera memuntahkan air mani. Mulutnya langsung menelan senjataku sampai menyentuh tenggorokannya. Tangannya kemudian mengocok pangkal penisku yang tidak muat di mulutnya. Kepalanya naik turun mengeluar-masukkan penisku. Aku benar-benar sudah tidak tahan. Ujung penisku yang sudah sampai di tenggorokannya masih aku dorong-dorong. Tanganku juga ikut mendesakkan kepalanya. Lidahnya memutari penisku yang ada dalam mulutnya. "Raniii isap terus terusss hampirr terusss yyyaa sekaranggg sekarangg.. issaapp..", Rani yang merasa penisku hampir menyemburkan sperma semakin menyedot dengan kuat. Dan..."aahh.. sekaranggg.. sekaranggg.. issaappp.." spermaku menyembur dengan deras berkali-kali dengan rasa nikmat yang tidak berkesudahan. Rani dengan rakusnya menelan semuanya, dan masih menyedot sperma yang masih ada di dalam penis sampai habis. Rani terus menyedot yang membuat orgasmeku semakin nikmat. Dan setelah selesai, Rani masih juga menjilati penisku, spermaku yang sebagian tumpah juga masih di jilati.

Kemudian setelah beristirahat beberapa saat, kami pun meneruskan mandi sambil saling menyabuni. Setiap lekuk tubuhnya aku telusuri. Dan aku pun semakin menyadari bahwa badannya sangat indah. Setelah itu kami tidur berdua sambil terus berpelukan.

Pagi-pagi ketika aku bangun ternyata Rani sudah berpakaian rapi, dan dia cantik sekali. Dia mengenakan rok mini dan baju tanpa lengan yang serasi dengan kulitnya yang halus. Dia mengajakku belanja ke Mall karena persediaan makanan memang sudah habis. Maka aku pun segera mandi dan bersiap-siap.

Di perjalanan dan selama berbelanja kita saling memeluk pinggang. Siang itu aku menikmati jalan berdua dengannya. Kita belanja selama beberapa jam, kemudian kita mampir ke sebuah Caf? untuk makan siang. Di dalam mobil dalam perjalanan pulang kita ngobrol-ngobrol tentang semua hal, dari masalah pelajaran sekolah sampai hal-hal yang ringan. Ketika ngobrol tentang sesuatu yang lucu, Rani tertawa sampai terpingkal-pingkal, dan saking gelinya sampai kakinya terangkat-angkat. Dan itu membuat roknya yang pendek tersingkap. Aku pun sembari menyetir, karena melihat pemandangan yang indah, meletakkan tanganku ke pahanya yang terbuka.

"Ayo.. nakal yah.." kata Rani, bercanda.

"Tapi suka kan?" kataku sambil meremas pahanya. Kami pun sama-sama tersenyum. Mengusap-usap paha Rani memang memberi sensasi tersendiri, sampai aku merasa penisku menjadi tegang sendiri.

"Dodi.. sudah kamu nyetir saja dulu, tuh kan itunya sudah bangun.. pingin lagi yah? Rani jadi pengin ngelusin itunya nih.." kata Rani menggodaku. Aku cuma senyum menanggapinya, dan memang aku sudah kepingin mencumbunya lagi.

"Dodi, bajunya dikeluarin dong dari celana, biar tanganku ketutupan. Dipegang yah?" Aku semakin nyengir mendengarnya. Tapi karena memang kepingin, dan memang lebih aman begitu dari pada aku yang meneruskan aksiku. Sambil menyetir aku pun mengeluarkan ujung bajuku dari celanaku. Kemudian tanpa menunggu, tangan Rani langsung menyelinap ke balik bajuku, ke arah selangkanganku. Tangannya mencari-cari penisku yang semakin tegang.

"Ati-ati, masih siang nih, kalau ada orang nanti tangan kamu ditarik yah!" kataku. Rani diam saja, dan kemudian tersenyum ketika tangannya menemukan apa yang dicari-cari. Tangannya kemudian mulai meremas penisku yang masih di dalam celana. Penisku semakin tegang dan berdenyut-denyut. Karena terangsang juga, Rani mulai berusaha membuka ritsluiting celanaku, dan kemudian menyelinapkan tangannya, dan mulai memegang kepala penisku. Cairan pelumas yang mulai keluar diusap-usapkan ke kepala dan batang penisku.

"Dodi.. aku pengin ngisep ininya.. aku pengin ngisep sampai kamu keluar dimulutku.." katanya sambil agak mendesah. Aku juga ingin segera merasakan apa yang dia ingini. Yang ada di otakku adalah segara sampai di rumah, dan segera mencumbunya.

Tapi harapan kita ternyata tidak segera terwujud karena sesampainya di rumah, ternyata orang tua Rani sudah pulang. Kita cuma saling berpandangan dan tersenyum kecewa.

"Eh, sudah pada pulang yah.." Rani menyapa mereka.

"Iya nih, ada perubahan acara mendadak. Makanya sekarang cape banget. Nanti malem ada undangan pesta, makanya sekarang mau istirahat dulu. Kamu masak dulu saja ya sayang.. sudah belanja kan?" kata maminya Rani.

"Iya deh, sebentar Rani ganti baju dulu. Eh, Dodi, katanya kamu pengin belajar masak, ayo, sekalian bantuin aku", kata Rani sambil tersenyum penuh arti. Aku cuma mengiyakan dan ke kamarku ganti pakaian dengan celana pendek dan T-shirt. Kemudian aku ke dapur dan mengeluarkan belanjaan dan memasukkannya ke lemari es. Tidak lama kemudian Rani menyusul ke dapur. Dia pun sudah berganti pakaian, dan sekarang memakai daster kembang-kembang. Tante juga ikut-ikutan menyiapkan bahan makanan dan Rani mulai mengajariku memasak.

"Sudah Mami istirahat saja sana, kan ini juga sudah ada yang ngebantuin.." kata Rani.

"Iya deh, emang Mami cape banget sih, sudah yah, Mami mau coba istirahat saja", kata Maminya Rani sambil keluar dari dapur. Aku yang sedang memotongi sayuran cuma tersenyum. Setelah beberapa saat, Rani tiba-tiba memelukku dari belakang, tangannya langsung ditelusupkan ke dalam celanaku dan memegang penisku yang masih tidur.

"Eh.. kok ininya bobo lagi.. Rani bangunin yah?" tangannya dikeluarkan kemudian Rani mengambil salad dressing yang ada di depanku, masih sambil merapatkan badannya dari belakangku. Kemudian salad dressingnya dituangkan ke tangannya, dan langsung menyelinap lagi ke celana dan dioleskan ke penisku yang langsung menegang. Sambil merapatkan badannya, susunya menekan punggungku, Rani mulai meremasi penisku dengan dua tangannya. Nikmat yang aku rasakan sangat luar biasa. Aku segera melingkarkan tangan ke belakang, meremas pantatnya yang bulat itu. Tanganku aku turunkan sampai ke ujung dasternya, kemudian kusingkapkan ke atas sambil meremas pahanya dengan gemas. Ketika sampai di pangkal pahanya, aku baru menyadari kalau Rani ternyata sudah tidak memakai celana dalam. Maka tanganku menjadi semakin gemas meremasi pantatnya, dan kemudian menelusuri pahanya ke depan sampai ke selangkangannya. Jari-jariku segera membuka belahan vaginanya dan mulai memainkan clitorisnya yang sudah sangat basah terkena cairan yang semakin banyak keluar dari vaginanya. Tangan Rani juga semakin liar meremas, meraba dan mengocok penisku.

"Rani.. sana diliat dulu, apa Om dan Tante memang sudah tidur.." kataku berbisik karena merasa agak tidak aman. Rani kemudian melepaskan pegangannya dan keluar dapur.

Tidak lama kemudian Rani kembali dan bilang semuanya sudah tidur. Aku segera memeluk Rani yang masih ada di pintu dapur, kemudian pelan-pelan pintu kututup dan Rani kupepet ke dinding. Kita berciuman dengan gemasnya dan tangan kita langsung saling menelusup dan memainkan semua yang ditemui. Penisku langsung ditarik keluar oleh Rani dan aku segera menyingkap dasternya ke atas, kemudian kaki kirinya kuangkat ke pinggulku, dan selangkangannya yang menganga langsung kuserbu dengan jari-jariku. Tangan Rani menuntun penisku ke arah selangkangannya, menyentuhkan kepala penisku ke belahan vaginanya dan terus-terusan menggosok-gosokkannya. Untuk mencegah agar Rani tidak mengerang, mulutnya terus kusumbat dengan mulutku. Kemudian karena sudah tidak tahan, aku segera mengarahkan penisku tepat ke mulut vaginanya, dan menekan pelan-pelan, terus ditekan, terus ditekan sampai seluruh batangnya amblas. Kaki Rani satunya segera kuangkat juga ke pinggangku, sehingga sekarang dua kakinya melingkari pinggangku sambil kupepet di dinding. Kita saling mengadu gerakan, aku maju-mundurkan penisku, dan Rani berusaha menggoyang-goyangkan pantatnya juga. Vaginanya berdenyutan terasa meremasi batang penisku. Tidak lama kemudian aku merasa Rani hampir orgasme. Denyutan vaginanya semakin keras, badannya semakin tegang dan isapan mulutnya di mulutku semakin kuat. Kemudian aku merasa Rani orgasme. Kontraksi otot vaginanya membuat penisku merasa seperti diurut-urut dan aku juga merasa hampir mencapai orgasme. Setelah orgasme, gerakan Rani tidak liar lagi, dia cuma mengikuti gerakan pantatku yang masih menghunjam-hunjamkan penisku dan mendesakkan badannya ke dinding.

Kemudian sementara penisku masih di dalam dan kaki Rani masih di pinggangku, aku melangkah ke arah meja dapur dan duduk di salah satu kursi, sehingga sekarang Rani ada di pangkuanku dengan punggung menyandar di meja dapur. Selama beberapa saat kita cuma berdiam diri saja. Rani masih menikmati sisa kenikmatan orgasmenya dan menikmati penisku yang masih di dalam vaginanya. Sementara aku menikmati sekali posisi ini, dan menikmati melihat Rani ada di pangkuanku. Tanganku mengusap-usap pahanya dan menyingkapkan dasternya ke atas sampai melihat bulu kemaluan kami yang saling menempel. Belahan vaginanya kubuka dan aku melihat pemandangan yang sangat indah. Penisku hanya kelihatan pangkalnya karena seluruh batangnya masih di dalam vagina Rani, dan di atasnya aku melihat clitorisnya yang sangat basah. Jari-jariku mulai mengusap-usap clitorisnya sampai Rani mulai mendesis-desis lagi, dan pantatnya mulai bergerak lagi, berputar dan mendesakkan penisku menjadi semakin masuk. Aku merasa vaginanya mulai berdenyutan lagi meremas-remas penisku. Karena gemas, kadang-kadang clitorisnya kupelintir dan kucubit-cubit.

Kemudian dasternya kusingkap semakin ke atas sampai aku melihat susunya yang menantangku untuk segera memainkannya. Dengan tak sabar segera susunya yang kiri kulumat dengan mulutku, yang membuat kepala Rani mendongak merasakan kenikmatan itu. Sambil melumati susunya, lidahku juga memainkan putingnya yang sudah sangat tegang. Kadang-kadang putingnya juga kugigit-gigit kecil dengan gemas. Tanganku dua-duanya meremasi pantatnya yang bulat.

"Ya Tuhan Dodiii aahh aahh", rintihnya di kupingku, sambil kadang menjilati dan menggigit kupingku.

"Dodii.. aahh.. aku hampir dapet lagii.. ahh.., terus gitu sayang", rintihnya dengan gerakan yang semakin liar. Pantatnya semakin keras menekan dan berputaran, yang membuat penisku juga seperti dipelintir dengan lembut. Aku pun menuruti dan terus memberikan kenikmatan dengan terus memainkan susunya bergantian yang kiri dan kanan, dan tanganku juga ikut memainkan puting susunya, sampai Rani tiba-tiba menggigit kupingku dengan keras dan setelah menghentakkan pantatnya dia memelukku dengan eratnya.

"hh Dodddiii.. hh. hh." Aku merasakan Rani orgasme untuk kedua kalinya dan lebih hebat dari yang pertama. Denyutan vaginanya keras sekali dan berlangsung selama beberapa detik, dan kenikmatan yang aku rasakan membuatku merasa sudah hampir orgasme. Tapi setelah orgasme, ternyata Rani masih ingat keinginannya untuk menghisap penisku.

"Dodi.. jangan dikeluarin dulu.. nanti di mulutku saja yah". Maka setelah turun dari pangkuanku, Rani segera jongkok di depanku dan langsung mengulum penisku. Lidahnya memutari batangnya dan mulutnya menyedot-nyedot membuat aku merasa orgasmeku sudah sangat dekat. Tanganku memegang belakang kepala Rani, dan kutekan agar penisku semakin masuk di mulutnya, kemudian aku juga membantu memasuk-keluarkan penisku di mulutnya, dan

"aahh Rani aku keluarrr terus isaappp.. aahh.." dan memang Rani dengan lahapnya terus menghisap spermaku yang langsung berhamburan masuk ke tenggorokannya. Penisku yang masih mengeluarkan sperma terus disedot dan dikenyot-kenyot dan pangkal penisku juga terus-terusan dikocok-kocok. Orgasmeku kali ini kurasakan sangat luar biasa.

Setelah itu kita kembali berciuman, dan kembali meneruskan memasak.

"Dodi.. makasih yah, tapi aku belum puas, habis kurang bebas sih, entar malem lagi yah..!" aku yang merasa hal yang sama cuma mengangguk.

"Ran, aku nanti malem pengin menikmati seluruh tubuhmu."

"Maksudmu..? apa selama ini belum?"

"Aku pengin melakukan hal yang lain sama kamu.., tunggu saja.."

"Ihh.. apaan sih.., Rani jadi merinding nih", kata Rani sambil memperlihatkan bulu-bulu tangannya yang memang berdiri, dan sambil tersenyum aku mengelusi tangannya. Kemudian badannya kupeluk dari belakang dengan lembut. Aku merasa bahagia sekali.
ReadmoreAku dan Rani Korban Seks - Cerita Seks